Breaking News
Sabtu, 6 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Perempuan-perempuan Pala dari Dramaga

Pisau di tangan kanan Sri Herawati bergerak cepat menyisit kulit buah pala. Hanya dalam beberapa menit, pala sudah bersih.

Tayang:
Editor:
citizen reporter/yulia adiningsih
Perempuan pengupas pala di Desa Dramaga, Kabupaten Bogor. 

Oleh
Yulia Adiningsih
Mahasiswa UNJ

LENGANG. Tak ada aktivitas warga terlihat di Desa Dramaga, Sabtu (18/11/2017), namun suasana berbeda terasa saat melongok ke dalam rumah mereka.

Sejumlah perempuan duduk tak teratur di dalam rumah yang berada di Kecamatan Dramaga, Bogor itu. Buah pala ada di mana-mana.

Pisau di tangan kanan Sri Herawati bergerak cepat menyisit kulit buah pala. Hanya dalam beberapa menit, pala sudah bersih.

Sekejap kemudian, pala lainnya sudah berada di wadah berisi air. Bahkan ketika Sri dan kawan-kawannya berceloteh pun, pisau tak pernah berhenti bergerak.

Sri merupakan satu di antara ibu rumah tangga di Desa Dramaga yang bekerja sebagai pengupas pala. Sudah 30 tahun ia menenkuni pekerjaanya ini, sejak ia masih gadis.

Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, namun kini jadi mata penaharian utamanya, apalagi setelah sang suami meninggal dunia.

Selain mengupas buap pala, perempuan ini juga menjadi buruh cuci baju. Namun bagi Sri, mengupas pala lebih menguntungkan dibandingkan mencuci baju orang.

“Mengupas pala lebih santai daripada jadi buruh cuci,” kata dia.

Sebanyak 500 biji pala bisa ia kupas setiap harinya. Setiap 100 biji pala dihargai Rp 4.000. Sebulan, ia bisa memeroleh Rp 600 ribu.

Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan penghasilannya sebagai buruh cuci baju. Upah mencuci baju yang ia dapatkan rata-rata Rp 300 ribu per bulan.

Pala-pala yang telah Sri kupas, ia setorkan ke bosnya, yakni Anton. Upah mengupas pala dapat membantu perekonomian keluarganya.

“Lumayanlah buat makan sehari-hari,” ujar Sri kemudian tersenyum.

Setali tiga uang. Nia, tetangga Sri, mengaku, penghasilan dari mengupas pala bisa membantu pendapatan keluarganya.

Kendati bukan pekerjaan utamanya, uang yang ia terima bisa membantu membeli kebutuhan sekolah anaknya. “Saya hanya bantu-bantu suami,” kata Nia.

Nia bercerita, hampir semua perempuan di Desa Dramaga, khususnya di RT 4 RW 3, menjadi buruh pengupas kulit pala.

“Depan, belakang, tetangga pada ngupas pala,” kata ibu rumah tangga ini.

Sabtu siang itu, Nia berada di kediaman Sri bersama Hindun, Lasmanah, Yanti dan seorang gadis sedang mengupas pala dengan jari jempol dan telunjuk berbalut plester luka.

Ya, bukan hanya ibu rumah tangga yang menjadi pengupas kulit pala, gadis remaja juga ada.

Pengupas buah pala di Desa Dramaga kian banyak seiring dengan bertambahnya pengusaha manisan buah pala.

Awalnya, kata Nia, hanya Said yang memproduksi manisan pala di daerahnya. Said mempunyai tiga anak. Satu dari tiga anaknya tersebut melanjutkan usahanya, yaitu Anton.

Menurut dia, Anton paling banyak mempekerjakan warga sebagai pengupas pala dibandingkan pengusaha manisan buah pala yang lainnya.

Namun, ada juga pengusaha lainnya yang tak kalah tenar. Satu di antaranya adalah Hapsah.

Namanya disebut-sebut di beberapa media massa karena memproduksi pala dan memberdayakan banyak perempuan di desa dramaga.

Perempuan yang biasa disapa Bu Aap ini telah menekuni usaha manisan pala sejak 1982, sementara Anton baru memulai usaha 10 tahun lalu.

Sebelum membuka usaha itu, Bu Aap adalah seorang buruh kupas buah pala juga.

Ia bercerita bahwa sejak umur 9 tahun ia sudah menjadi buruh kupas buah pala sampai dia menikah pada umur 13 tahun, ia masih menjadi buruh.

Selama ia menjadi buruh ia selalu memerhatikan bagaimana proses membuat manisan buah pala mulai dari mengupas sampai akhir untuk ia pelajari.

“Saya mencoba belajar dari situ,” kata dia.

Tahun 1982, Bu Aap nekat membuka usaha sendiri. Saat itu ia mengumpulkan uang untuk modal usahanya. “Modal saat itu Rp 50 ribu,” kata dia.

Modal tersebut tak semuanya ia belikan untuk pala. Ia hanya mengeluarkan Rp 10 ribu untuk membeli pala dari Ciapus.

Pala-pala itu ia olah sendiri, mulai dari membersihkan hingga menjadi manisan. Ia juga bahkan menjajakannya.

Ia berjalan kaki dari Dramaga ke Pasar Anyar yang berkilo-kilometer. Jika beruntung, ia mendapat tumpangan menuju pasar itu.

Bu Aap memang harus bekerja keras, namun buah keringatnya sudah menunjukkan hasil.

Sepuluh tahun kemudian, ia mulai merekrut para perempuan yang sebagain besar tetangganya untuk mengupas pala.

Ia ingin memberdayakan perempuan, terutama ibu rumah tangga dan janda di Desa Dramaga.

Awalnya ia mengajak keluarganya dulu.“Anak saya juga yang perempuan dua ikut bantu saya ngurusin usaha buah pala,” kata Bu Aap.

Satu per satu perempuan-perempuan di Desa Dramaga bekerja kepada bu Aap menjadi buruh kupas buah pala.

Terhitung 32 perempuan yang bekerja kepadanya. Kebanyakan adalah ibu rumah tangga dan janda-janda.

“Daripada mereka tidak kerja, mending mengupas buah pala untuk dijadikan manisan,” kata Bu Aap.

Namun, tak selamanya usaha berjalan mulus. Kini kian banyak pengusaha-pengusaha manisan. Orang-orang yang bekerja kepadanya pun mulai berkurang karena beralih kerja ke tempat lain.

Dari 32, tersisa 15 perempuan. Beberapa di antaranya adalah kerabatnya sendiri.

Mimi satu di antara buruh kupas buah pala yang juga merupakan kerabat Bu Aap masih setia bekerja pada Bu Aap.

Mimi sudah 10 tahun lebih bekerja pada Bu Aap sebagai buruh kupasbuah pala. Setiap hari ia bisa mengupas buah pala 300 sampai 400 biji.

Upah dari hasil mengupas buah pala biasanya diambil saat ia membutuhkannya. “Seperti nabung saja untuk kebutuhan kalau mendesak,” kata dia. (*)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved