Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Akihito, Kaisar Jepang Pertama yang Turun Tahta Dalam Dua Abad Terakhir

Akihito dikenal banyak mendobrak tradisi kerajaan dan tak sedikit memicu kritik dari kaum tradisionalis.

Editor: Fernando_Lumowa
AP via Japan Today
Presiden AS Donald Trump dan ibu negara Melania Trump bertemu dengan Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko di istana kekaisaran Jepang, Minggu (5/11/2017). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kaisar Akihito menjadi kaisar pertama yang akan turun takhta selama dua abad sejarah Jepang. Akihito memutuskan untuk turun takhta pada 30 April 2019 karena usia dan alasan kesehatan.

Sejak meneruskan takhta sang ayah, Kaisar Showa, pada 1989 lalu, Akihito dikenal banyak mendobrak tradisi kerajaan dan tak sedikit memicu kritik dari kaum tradisionalis di Negara Matahari Terbit itu.

Namun, di sisi lain, perubahan yang ia lakukan justru semakin mendekatkan kekaisaran dengan masyarakat Jepang.

"Peran dan karakter Akihito sebagai Kaisar Jepang sangat berbeda dari sang ayah. Akihito sangat populer di kalangan masyarakat dan telah banyak membantu memperbaiki peran kekaisaran menjadi relevan di Abad ke-21," tutur Jeffrey Kingston, Direktur Studi Asia Temple University pada Jumat (1/12).

Jeffrey mengatakan, selama menjabat, Akihito berupaya melepas kekaisaran dari citra kepemimpinan sang ayah, yang merupakan penggagas agresi Jepang di Asia selama paruh pertama Abad ke-20.

Akihito telah berulang kali mengungkapkan penyesalan atas tindakan negaranya sebelum dan selama Perang Dunia II berlangsung. Salah satu yang paling menjadi kontroversi adalah ketika Akihito mengunjungi China pada 1992.'

Akihito menjadi raja pertama Jepang yang mengunjungi China, salah satu negara yang sempat dijajah Jepang.

Akihito pun dinilai memiliki peran yang lebih besar dari para pemimpin politik selama ini dalam mendorong rekonsiliasi pemerintah dengan para korban kolonialisme Jepang.

"Akihito menjadi salah satu kaisar yang berjasa menyebuhkan luka dan keterpurukan rakyat Jepang di masa Perang Dunia II," ucap Kingston seperti dilansir CNN.

"Di luar tindakannya yang bertentangan dengan pandangan rakyat Jepang selama ini, seperti mengunjungi Kuil Yasukuni yang kontroversial dan menghapus sejumlah cerita kejam penjajahan Jepang di buku sejarah sekolah, Akihito telah mengungkapkan penyesalan Jepang terkait pemberontakan di kawasan," ujarnya menambahkan.

Kecintaan pria 83 tahun itu terhadap rakyat Jepang juga terlihat selama kepemimpinannya berlangsung. Akihito kerap mengundang dan berinteraksi dengan warga sipil di setiap gelaran perayaan kerajaan.

Saat Jepang dilanda bencana gempa dan tsunami besar pada 2011 lalu, Akihito bahkan ikut meninjau langsung sejumlah tempat pengungsian para korban bencana, tindakan yang tidak pernah dilakukan kaisar-kaisar sebelumnya.

Akihito juga sempat duduk bercengkerama bersama sejumlah warga yang menjadi korban tsunami di beberapa tempat pengungsian.

Tak hanya itu, Akihito juga menjadi kaisar Jepang pertama yang menikahi rakyat biasa sepanjang sejarah. Akihito menikahi permaisuri Michiko Shoda yang bukan keturunan bangsawan pada 1959 lalu ditengah rumor bahwa sang ibu, permaisuri Kojun, tidak menyetujuinya.

Dari pernikahannya itu, Akihito dan Michiko memiliki enam anak. Akihito dan Michiko pun membesarkan keenam anaknya sendiri, yang tak biasa dilakukan keluarga kekaisaran Jepang.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved