Minggu, 12 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

KONSERVASI

TERANCAM PUNAH - Kelangsungan Hidup Owa Jawa Makin Terancam, Ini Penyebabnya

Owa jawa (Hylobates moloch) merupakan salah satu satwa langka dan dilindungi dengan status konservasinya terancam punah

Editor:
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Seekor owa jawa (Hylobates moloch) bernama Ucup (delapan tahun) berada di dalam kandang sebelum dilepasliarkan di Kawasan Cagar Alam Gunung Tilu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/10). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bekerja sama dengan The Aspinal Foundation Indonesia Program melepasliarkan dua pasang Owa Jawa yaitu, dua Owa jantan bernama Ucup dan Iwa (tiga tahun) serta dua betina Desi (enam tahun) dan Amoy (2,5 tahun). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/kye/17 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Owa jawa (Hylobates moloch) merupakan salah satu satwa langka dan dilindungi.

Kelangsungan hidup di habitat alaminya semakin terancam.

Hal tersebut terjadi di antaranya karena perburuan, pemeliharaan, dan dampak gangguan hingga perusakan habitat alami.

"Owa jawa ini satwa dilindungi dengan status konservasinya terancam punah dan jumlah di habitat alaminya cukup kritis," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Sustyo Iriyono saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan singkat, Minggu (8/10/2017).

Di wilayah Sukabumi dan Cianjur, lanjut dia, satwa endemik atau asli yang hanya ditemukan di Pulau Jawa ini dapat ditemukan dan dilihat di antaranya di sejumlah kawasan konservasi.

Seperti di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh/Cagar Alam (CA) Cibanteng, CA Gunung Simpang, CA Takokak, dan CA Bojong Larang.

"Selain di dalam kawasan konservasi, habitat alami owa jawa ada di luar kawasan konservasi. Meskipun di luar kawasan konservasi, tetap owa jawa itu dilindungi," ujarnya.

Dia menyebutkan dalam upaya menyelamatkan dan melestarikan satwa langka ini dilakukan berbagai langkah.

Di antaranya pada Januari 2017 membentuk tim gugus tugas evakuasi dan penyelamatan tumbuhan dan satwa liar (TSL) BBKSDA Jabar dan membentuk jaringan dengan instansi swasta dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang konservasi.

"Hasilnya hingga Agustus 2017 telah menyelamatkan 620 ekor satwa berbagai jenis yang dilindungi dari para pemiliknya. Di antaranya termasuk owa jawa," ujar dia.

Seekor owa jawa bertengger di dahan pohon di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sukabumi, Jawa.Barat, Rabu (21/12/2016).
Seekor owa jawa bertengger di dahan pohon di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sukabumi, Jawa.Barat, Rabu (21/12/2016). (KOMPAS.com/Budiyanto)

Upaya lainnya, lanjut dia, dalam program rehabilitasi owa jawa dengan The Aspinall Foundation (TAF).

Kegiatan terbaru dengan TAF yaitu pelepasliaran empat ekor (dua pasang) owa jawa di Cagar Alam (CA) Gunung Tilu, Kabupaten Bandung, Kamis (5/10/2017) lalu. 

Keempat owa jawa tersebut dilepasliarkan di dua lokasi berbeda.

Dua ekor owa jawa bernama Ucup (jantan berumur 8 tahun) dan Desi (betina berumur 5 tahun) dilepasliarkan di Blok Ankap.

"Ucup telah menjalani masa rehabilitasi selama 2 tahun, sedangkan Desi telah menjalani masa rehabilitasi selama 6 bulan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved