Tribun Manado TV
(VIDEO) Jelajahi Monumen Para Leluhur
Stonehenge di Inggris merupakan satu di antara peninggalan yang sangat terkenal.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID - Stonehenge di Inggris merupakan satu di antara peninggalan yang sangat terkenal.
Mungkin kamu juga ingin melihat bangunan yang diperkirakan dibuat pada zaman Perunggu dan Neolitikum itu,
Bagi kamu yang belum kesampaian melihat monumen yang terbuat dari batu itu, bisa melakukan petualangan yang dekat-dekat dulu. Ya, untuk melihat peninggalan dari leluhur, tentu saja gak harus jauh-jauh terbang keluar negeri. Yang dekat-dekatlah, Sulawesi Utara.
Kali ini kita jelajahi tempat yang berada di Manado dulu, yakni Batu Sumanti. Kemudian kita bisa berkendaraan menuju Kabupaten Minahasa Tenggara. Di sana ada menhir yang masyarakat setempat menyebutnya Pasak Wanua Wawali. Di kabupaten ini juga ada mitos batu beranak.
Perjalananmu bisa berlanjut ke daeraah Guaan di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Nah di daerah ini lesung dan meja batu.
Sepulang dari tempat-tempat itu bisa membuat catatan atau hal-hal menarik yang bisa kamu temukan. Ok, sebelumnya, kamu bisa dapatkan gambaran awal terlebih dahulu tentang tempat-tempat itu.
Watu Sumanti
Tersembunyi di antara permukiman warga yang padat di Kelurahan Tikala Ares Lingkungan 2, objek wisata Watu Sumanti berperang dengan zaman. Ia coba eksis.
Watu itu berlokasi di depan Kantor Kelurahan Tikala Ares. Kantor berada di ujung lorong sempit pada jalan yang menghubungkan daerah Banjer, Pumorow, dan Tikala.
Watu tersebut terdiri dari sekira sepuluh batu berdiri dengan ukuran 15 sampai 30 sentimeter. Batu‑batu itu berhadapan dengan tiga batu pipih dan pendek. Sebuah pendopo kecil dibangun tak jauh dari prasasti tersebut.
Watu itu hadir sebagai tanda pendirian desa atau tempat pemukiman baru. Area sekitar batu itu adalah tanah lapang yang kemudian menjadi tempat pemukiman Wanua Ares, pemukiman pertama di kota Manado.
Dalam tradisi Minahasa, Watu Sumanti berasal dari kata watu (batu) dan santi (pedang). Artinya, batu tempat memainkan pedang.
Seorang warga bernama Feki Lasut mengatakan batu tersebut dulunya hanya dua. "Namun sekarang ada banyak sekali, batu itu menggandakan dirinya," kata dia.
Dikatakan Feki, dulunya batu itu dianggap keramat oleh warga setempat. Tak ada yang berani mendekat tempat itu. "Semua hormat dengan batu itu," kata dia. (art)
Pasak Wanua Wawali