Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Petani Gembira, Program Pertanian Terintegrasi Padi Sawah dan Sapi Sangat Menguntungkan

Wajah dari J Manungkap (34) warga Kecamatan Sangkup terlihat semringah.

Penulis: | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO/HERVIANSYAH

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Wajah dari J Manungkap (34) warga Kecamatan Sangkup terlihat semringah.

Aura mukanya terlihat berbinar-binar melihat sawah tetangganya Haji Azis yang terbentang luas, menguning. Dengan pohon yang merunduk, karena berat padi yang lebat.

"Sawah saya di sana, dibelakang sawah Haji Azis," ujarnya sambil menunjuk lokasi sawahnya, seusai Panen padi yang dilakukan oleh Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara(Sulut) dan Pemerintah Daerah Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) yang menerapkan Program Pertanian Terintegrasi padi sawah dan Ternak Sapi, Selasa (25/10/2016).

Dia menambahkan saat ini sedang menerapkan pertanian menggunakan Salibu yang dianjurkan oleh Bank Indonesia (BI) memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan sistem tradisional yang biasa diterapkan.

Satu di antaranya tidak perlu repot-repot menggarap sawah, karena cukup sekali bisa panen tiga sampai empat kali.

"Jadi, hal ini menguntungkan tak perlu menggarap dua kali," katanya.

Apalagi nantinya jerami padi yang biasanya dibakar begitu saja bisa dimanfaatkan untuk makanan sapi, dengan cara di fermentasi. Sehingga sapi yang dimilikinya menjadi gemuk.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sukardin (64) warga Desa Sangkub 1 Kecamatan Sangkub yang mengungkapkan selama ini ini tiga ekor sapi yang dimilikinya hanya dibiarkan di lapangan saja untuk mencari makan.

Dengan adanya jerami padi yang bisa dijadikan pakan ternak.

"Habis panen biasanya jerami saya bakar begitu saja," katanya.

Apalagi dengan pakan dari jerami yang telah di fermentasi sapi yang dipelihara bisa di kandangkan, untuk kemudian kotoran padat dan urinenya diolah kembali menjadi pupuk yang memiliki nilai tambah yang cukup tinggi.

"Kalau saya terapkan bisa meraih pendapatan yang cukup tinggi dari kotoran sapi,"katanya.

Dengan demikian program yang diterapkan BI cukup bagus bagi petani di sini.

"Teman-teman saya pasti mau menerapkannya," ungkapnya.

Sedangkan Manager Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara (Sulut) Nola Pangau mengungkapkan sistem pertanian terintegrasi padi sawah dan sapi merupakan terkait program ketahanan pangan dan pengendalian inflasi, sebab beras merupakan komponen penyumbang inflasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved