Indonesian Youth Day
Defile Peserta IYD Luar Biasa
Mariana Angel Karunia Priska (22), peserta Indonesian Youth Day (IYD) dari Keuskupan Denpasar merasa bangga sebagai Orang Muda Katolik (OMK).
Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
Laporan Wartawan Tribun Manado, David Manewus
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Mariana Angel Karunia Priska (22), peserta Indonesian Youth Day (IYD) dari Keuskupan Denpasar merasa bangga sebagai Orang Muda Katolik (OMK).
Rasa kesatuan baginya sangat terasa ketika diadakan defile peserta mulai dari Lapangan Wolter Mongisidi Sario sampai Stadion Klabat, Selasa (4/10/2016).
"Rasa kesatuan kita berbeda. Kita diajarkan satu tapi masuk dalam budaya-budaya (inkulturasi)," katanya.
Inkulturasi itu memang benar-benar ditampilkan dalam defile yang meriah itu.
Dengan dikawal tari Kabasaran yang ada wanita, misalnya, keuskupan Weetebula menarikan Tari Kataga.
Keuskupan Atambua yang berada tak berada jauh di belakangnya tampak menggunakan baju adat Timor.
Kata Pastor Giri, pendamping dari keuskupan itu mereka juga menyanyi Horas Loron Malirin (diwaktu senja yang sejuk) Pastor Yoris Giri
Banjarmasin juga tampil dengan baju adat Banjar. Sementara keuskupan Maumere menampilkan tari Hegong dan tenun ikat Maumere.
Keuskupan Ambon "tak mau kalah".
Mereka menampilkan tari Cakalele yang energik.
Mereka bahkan menarikan itu dalam sebuah sebuah perahu tanpa dinding.
Keuskupan Malang menampilkan umbul-umbul Blambangan. Selain menampilkan umbul-umbul Blambangan, kata Thomas Dwiprianto, OMK Malang, mereka menampilkan tari Janger dan baju adat Banyuwangi, Malangan, dan Madura.
Hampir semua keuskupan di Kalimantan memakai baju adat Dayak. Sementara Palembang menampilkan Topi Tanjak dan Tari Bleganjur.
Keuskupan Agats menampilkan baju adat Asmat. Menurut Trianto (34), baju adat mereka terbuat dari Daun Sagu Muda
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/devile-iyd_20161005_013843.jpg)