Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Peserta IYD Tinggal di Keluarga Muslim

aya memang terbiasa dengan keluarga muslim karena banyak keluarga saya yang muslim.

Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
NET
Indonesian Youth Day 2016 

Laporan Wartawan Tribun Manado David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO-Veronika Dina Maryani (21), peserta Indonesian Youth Day (IYD) atau Pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) se-Indonesia dari Keuskupan Bandung mengambil banyak pelajaran ketika harus tinggal dengan keluarga muslim di Desa Poopoh, Kabupaten Minahasa. Saat ditemui Tribun Manado, Minggu (2/10) di perkebunan keuskupan Desa Kumu, ia merasakan hal sangat berbeda ketika memilih untuk tinggal di keluarga muslim.

Mahasiswi semester 5 fakultas ilmu komunikasi Universitas Guna Darma ini merasa tertantang untuk mengalami pengalaman yang berbeda itu. Apalagi hampir semua temannya tinggal di keluarga Katolik.

"Saya memang terbiasa dengan keluarga muslim karena banyak keluarga saya yang muslim. Tapi saya mengalami hal berbeda ketika saya tinggal di daerah mayoritas Kristiani lalu saya harus tinggal di keluarga muslim," katanya.

Saat bangun pagi, misalnya. Ia hanya berdoa pagi sendiri di kamar.

"Ibunya berdoa sendiri. Dan itu semua normal bagi saya," ujarnya.

Dalam kehidupan keseharian tak kadang kata Vero mereka juga berdialog tentang agama. Kemampuan berdialognya diasah untuk mewartakan sukacita kabar gembira di tengah kemajemukan.

"Hari pertama kami duduk di bawah pohon Mangga. Kami bercerita santai soal itu," ujarnya.

Ia mengaku mempelajari perbedaan. Ia dibina dalam live in itu untuk memahami apa saja yang menjadi ciri khas agama lain.

"Harapan saya, perbedaan tidak boleh menjadi penghalang dalam hidup berdampingan. Mama Sara sudah menunjukkan bahwa ia sangat memahami cara hidup Katolik. Ia mengingatkan saya ke gereja dan Rosario di wilayah rohani. Bahkan ia bisa membedakan mana bunyi lonceng gereja Katolik dan Protestan ," katanya umat Paroki Kristus Raja Cigugur itu.

Secara keseluruhan, Dina (panggilan akrabnya) senang bisa melakukan banyak kegiatan menyenangkan. Ia bisa berkumpul bersama Sara yang biasa dipanggil Mama Sara.

"Saya dimasakin ikan khas Manado. Ketua stasi memberikan kami es Tantebo yang terbuat dari Alpukat kacang, dan Gula aren," katanya.

Mereka katanya ke paroki di hari pertama. Setelah itu ke lingkungan masing-masing untuk ibadah rosario di wilayah rohani

Sara Suma (52), mengaku sudah mendengar adanya cewek OMK Bandung yang tinggal di rumahnya

"Tidak masalah bagi saya. Keluarga saya banyak Katolik terutama kemenakan saya sang kepala desa ," katanya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved