Tribun Manado History
Rumah Adat Bolaang Mongondow, Hilang akibat Trauma Perang Saudara
DULU strata sosial kehidupan di suku Mongondow dapat diketahui dari bentuk rumah warga.
Penulis: Maickel Karundeng | Editor:
Rumah ini sebagian besar berbahan kayu kelas dua atau cempaka. Atapnya sudah tergantikan dengan seng. Dulu rumah itu beratap daun nipa atau kayu yang dalam bahasan Mongondow disebut kayu uyu atau adow (cempaka).
"Posisi tiang raja mengarah timur," kata dia.
Teriring Ritual Adat
MEMBANGUN rumah adat di Mongondow harus disertai dengan ritual adat. Pemotongan kayu, misalnya.
Sebelum dipotong, pohon kayu tersebut harus dikelilingi sebanyak tujuh kali dan menggunakan alat sambil mencoba seakan-akan menebang pohon tapi tidak bisa disentuh dulu karena sedang dalam proses ritual. Dalam hal ini, sang penebang meminta izin karena ingin menebang pohon saat itu agar tidak terjadi gangguan atau masalah.
Aturan lainnya, kayu tidak bisa ditebang saat bulan purnama atau bulan terang, tapi saat bulan gelap.
Selanjutnya, tiang penyangga (utung) terlebih dahulu berdiri. Tapi secara ritual, tiang penyangga harus dibopong oleh masyarakat dari hutan menuju lokasi pembangunan rumah adat. Rumah dibangun secara gotong royong berdasarkan ketersedian bahan pembangunan.
Setelah itu juga ada ritual peletakan batu pertama, yakni ada tokoh adat meletakkan batu pada tiang penyangga.
Ketika rumah sudah berdiri, harus dilakukan ritual lagi yakni monuntul, juga selama tiga hari berturut-turut sambil memasang lentera. Saat itu harus pula diperhatikan selama berada di rumah jika terjadi gangguan-gangguan dari hewan atau lainnya.
"Tanggal yang ditetapkan menaiki rumah baru harus di rumah sambil menunggu suasana hati dan mengulang kembali ritual adat selama tiga malam berturut-turut. Jika sudah tenang serta tidak terjadi apa-apa maka sudah bisa ditinggali," kata Mokoginta.
Adapun pahatan-pahatan yang berada di rumah-rumah adat seperti melingkar di bagian tirisan rumah merupakan simbol penjemputan tamu.