Renungan Minggu
Renungan Minggu: Memurnikan Hidup
RASUL Paulus dalam bagian Firman ini mengungkapkan beberapa hal yang menjadi karakteristik dan motivasi pelayanannya.
Gbl. Francky R Londa STh MA
Sekum Pucuk Pimpinan
dan Majelis Gembala KGPM
TRIBUNMANADO.CO.ID - RASUL Paulus dalam bagian Firman ini mengungkapkan beberapa hal yang menjadi karakteristik dan motivasi pelayanannya yaitu adanya kepekaan atau kepedulian bagi Injil, komitmen atas Injil, dan keyakinan yang kokoh dalam Injil.
Itulah tanda-tanda kematangan atau kedewasaan iman seorang Rasul Paulus. Baginya, perkara iman adalah perkara yang sangat hakiki yaitu perkara hidup itu sendiri.
Karena itu, imannya tak pernah tergoyahkan oleh apapun juga. Kedewasaan iman seperti ini menuntut suatu komitmen. Sebab memang hanya pribadi yang tidak berorientasi pada diri sendiri yang mampu mencapai taraf iman seperti ini.
Hal itu mungkin apabila hidup seseorang telah terbebas dari dirinya sendiri dan benar-benar dikuasai oleh Tuhan.
Rasul Paulus tidak mengatakan bahwa dia mempunyai keyakinan yang kokoh dalam dirinya sendiri. Yang dia katakan ialah bahwa dia mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil. Begitulah sejatinya iman itu.
Kita melihat dalam bacaan Firman ini satu hal yang sangat penting dan mendasar untuk senantiasa kita hayati.
Kata "Injil" (Yunani: "euangelion") yang berarti kabar baik, kabar sukacita, kabar selamat. Kekuatan dan kebenaran yang terkandung di dalamnya memampukan seseorang untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan agar keselamatan dapat diterima, diimani dan dihidupi dengan sesungguhnya.
Dengan kata lain, Injil menjadi kekuatan dan kebenaran yang memurnikan hidup. Karena itu dikatakan bahwa kebenaran itu bertolak dari iman dan menuju kepada iman. Maka iman akan kekuatan dan kebenaran Injil inilah yang menjadi landasan bagi kehidupan yang kokoh, mantap, dan hebat.
Berkaca dari Firman ini, maka tugas dan tantangan Gereja dan setiap orang percaya adalah mari membangun kehidupan sejati di tengah bangsa dan negara dan dunia ini dengan berbasis pada kekuatan dan kebenaran Injil itu.
Karena bagaimanapun juga orang benar akan hidup oleh iman. Hari demi hari dunia mengajar kita untuk fokus pada diri kita, urusan-urusan kita dan kepentingan-kepentingan kita sendiri.
Maukah dan mampukah kita merelakan pemahaman dan persepsi hidup kita dibentuk bukan oleh gagasan-gagasan duniawi semata, melainkan oleh ajaran-ajaran Firman yang memaknai dan memurnikan nilai-nilai kehidupan?
Kita perlu bertumbuh dalam sikap dan hubungan yang benar dengan Tuhan maupun sesama. Dalam pertolongan Roh Kudus, mari kita bertumbuh dalam iman dengan merengkuh dan merealisasikan Injil sambil menjadikan Tuhan sebagai pusat dari seluruh eksistensi kehidupan kita.
Dewasa ini kita menyaksikan perselisihan, kekisruhan dan permusuhan di mana-mana, khususnya di tengah bangsa kita.