Minggu, 12 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Diduga Disambar Petir, Helikopter Milik TNI AD Jatuh di Poso, Semua Tewas

Menurut Tatang, sebanyak 12 korban lainnya sudah berhasil dievakuasi dan diidentifikasi di RS Bhayangkara, Palu.

Editor: Fransiska_Noel
istimewa/muhammad rifki
Helikopter jenis Bell 412 EP No HA-5171 yang ditumpangi rombongan Danrem 132/Tadulako Kolonel Inf Saiful Anwar bersama sejumlah perwira TNI AD sesaat sebelum heli tersebut jatuh. Foto diambil dari lokasi Sektor IV Operasi Tinombala 2016, sehari sebelum insiden Minggu 20/3/2016). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, POSO - Tiga perwira TNI berpangkat kolonel menjadi korban jatuhnya helikopter jenis Bell 412 EP milik TNI Angkatan Darat (AD) di Poso, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Minggu (20/3/2016) pukul 17.45 Wita.

Heli yang jatuh dan terbakar karena diduga disambar petir itu berisi 13 orang, dan semua tewas, termasuk tiga kolonel TNI AD tersebut.

Tiga perwira menengah senior yang tewas itu ialah Komandan Korem 132/Tadulako Sulteng, Kolonel (Inf) Saiful Anwar; Kolonel (Inf) Heri Setiaji dari Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, dan Kolonel (Inf) Ontang dari Badan Intelijen Negara (BIN).

Helikopter itu jatuh di sekitar perkebunan cokelat milik warga di Dusun Patirobajo, Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Provinsi Sulteng.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayor Jenderal Tatang Sulaiman membenarkan peristiwa jatuhnya helikopter TNI AD itu.
Dugaan sementara, kata Tatang, penyebab kecelakaan adalah faktor cuaca.

Namun demikian, menurut dia, penyebab pasti jatuhnya helikopter masih dalam tahap penyelidikan.

"Cuaca mendekati tempat pendaratan dalam (kondisi) hujan, detailnya saya juga belum bisa memberikan gambaran, hanya seperti yang diketahui, saat itu mendekati malam hari," kata Tatang dalam jumpa pers di Markas Besar TNI, Jakarta, Minggu (20/3/2016) malam.

Tatang menjelaskan, kronologi kejadian ialah helikopter terbang sekitar pukul 17.20 Wita dari Desa Napu menuju Poso.
Setelah terbang 35 menit atau sekitar pukul 17.55 Wita, helikopter dengan 13 penumpang tersebut jatuh di atas perkebunan milik warga bernama Arsad.

"Ada satu korban atas nama Letnan Satu Cpn Wiradi masih belum ditemukan," kata Tatang.

Menurut Tatang, sebanyak 12 korban lainnya sudah berhasil dievakuasi dan diidentifikasi di RS Bhayangkara, Palu.

Sementara untuk satu korban, yakni Lettu Cpn Wiradi, masih dalam pencarian TNI dan Polri.

Memimpin rombongan yang menaiki helikopter itu, Danrem 132/Tadulako Kolonel (Inf) Saiful Anwar sempat melakukan pengecekan situasi terkini lokasi persembunyian teroris pimpinan Santoso pada Jumat (18/3/2016) lalu.

Selain tiga kolonel itu, para perwira lain yang juga tewas dalam kejadian itu adalah Letkol CPM Teddy S. Prapat (Komandan Detasemen Polisi Militer Palu), Mayor Faqih Rasyid (Kepala Penerangan Korem 132/Tadulako), Kapten Yanto (dokter Korem), Kapten (Pnb) Agung (pilot helikopter), dan Letnan Satu (Pnb) Wiradi (ko-pilot) dan Letnan Dua (Pnb) Tito.

Empat korban tewas lainnya adalah Prajurit Dua Kiki (ajudan Danrem), Sersan Satu Bagus (kru helikopter), Sersan Dua Karmin (kru helikopter), dan Prajurit Satu Bangkit (kru helikopter).

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari lokasi kejadian tadi malam, sebelum jatuh dan terbakar, helikopter yang digunakan anggota TNI dalam Operasi Tinombala itu sempat berputar-putar di atas pemukiman warga.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved