Selingkuh Jadi Pemicu Perceraian di Kota Manado, Hampir Tiap Hari Ada yang Cerai
"Saya hanya terbawa emosi sesaat, meski orang ketiga baru dikenal tapi rasa sukanya luar biasa."
Penulis: | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Masalah ekonomi rumah tangga dan hadirnya orang ketiga, menjadi pemicu perceraian terbesar di Kota Manado selama tiga tahun terakhir.
Hal ini disampaikan oleh Humas Pengadilan Negeri Manado, Willem Rompas SH.
"Bayangkan saja baru meninggalkan bukan Januari sudah tercatat 25 kali sidang perceraian. Perceraian dipicu hadirnya orang ketiga dan tak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga," jelas Rompis, Senin (15/02).
Dari data yang ada tahun 2014 sudah terjadi sidang perceraian sebanyak 334 kali, tahun 2015 sebanyak 228 kali, dan Januari 2016 sebanyak 25 kali.
Dari data ini jelas, hampir tiap hari ada pasangan yang diputus cerai.
Menurut dia perceraian terjadi dan gagal saat dimediasi karena masing - masing mantan pasangan, sudah memliki orang ke tiga.
"Selalu jadi alasan faktor ekonomi, dimana tuntutan keluarga tidak lagi bisa dipenuhi sang suami sebagai kepala keluarga. Kemudian karena sudah langgeng dengan orang ketiga membuat mediasi gagal total,"jelas Rompis.
Menurut Rompis awal perceraian terjadi karena percecokan yang bisa berakhir pada kekerasan dalam rumah tangga. Kemudian tidak ada lagi kesepahaman dalam berumah tangga.
"Dari kebanyakan kasus memang kasus yang menonjol adalah pasutri yang bekerja dengan jarak yang sangat jauh, kemudian masa pertemuan terlalu lama bahkan bisa bertahun. Alasan paling klasik yaitu tidak dipenuhinya kebutuhan batin dari masing masing pihak dan terjadinya perselingkuhan,"jelas Rompis.
Rompis pun selalu menekankan baik kepada pasangan suami istri yang mau bercerai maupun keluarga mereka yang menjadi saksi. Namun karena pengaruh dilingkungan keluarga yang besar mendukung terjadinya perceraian maka tidak ada yang mau mediasi.
"Ada yang salah tingkah karena malu, dan ada juga yang terlalu emosi karena rasa sakit hati yang tidak bisa terbendung. Dan paling aneh, ada juga yang jelas - jelas mengatakan terlanjur cinta kepada orang ketiga,"jelas Rompis.
Melihat angka perceraian yang tinggi ini, Rompis memberikan himbauan kepada pemuka agama untuk terus memberikan pemahaman kepada jemaat tentang pentingnya salung setia. Apalagi tidak ada agama yang membenarkan sebuah perceraian.
"Ini memang ranah pimpinan gereja, kiranya selalu memberujan kotbah tetang kesetiaan dalam berumah tangga,"pungkas Rompis.
Sementara itu Ketty Mangkey Kepala Seksi perkawinan dan perceraian Kota Manado mengatakan, proses perceraian dilakukan secara sadar. Bahkan masing - masing pihak sudah berkesimpulan yang sama.
"Memang sayang kalau ujung pernikahan itu perceraian, apalagi kalau sudah punya anak. Dampaknya memang ke anak, tapi mereka melakukan secara sadar," jelas Ketty.