Renungan Minggu: Penyesalan
Judas Iskariot suatu pergolakan iman yang luar biasa tatkala iman dan ketaatannya kepada Yesus, berperang dengan keinginan hatinya.
Penulis: | Editor: Fransiska_Noel
Pdt Ronny Lewerissa
Ketua BPMJ GMIST Zaitun Paghulu
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Ada suatu keuntungan lakonis tatkala kita bersama tak ingin masuk dan menjadi sama dengan murid Tuhan Yesus, khususnya Judas Iskariot.
Di antara semua pengikut Yesus, tokoh Judas Iskariot menjadi sangat kontroversi selain apa yang dilakukan oleh Petrus (dalam penyangkalannya).
Judas Iskariot suatu pergolakan iman yang luar biasa tatkala iman dan ketaatannya kepada Yesus, berperang dengan keinginan hatinya.
Konsistensi beradu dengan misi individualistis. Judas Iskariot berada dalam situasi dilematis antara sifat Ilahi dan keinginan manusiawi.
Pada akhirnya episode kehidupannya, ia menghadirkan suatu keputusan sikap yakni "penyesalan".
Dengan bahasa lain, proses mengikuti Yesus tidak lagi merupakan pilihan nurani karena Judas Iskariot telah meninggalkan pilihan hati nuraninya (panggilan Ilahi) dan menuju ke arah seberang, dengan memenuhi harapan manusia lain, teman, bisa saja pacar, atasan, atau penguasa.
Pencitraan telah menjadi sesuatu yang berakibat hilangnya moralitas sebagai pengikut Yesus.
Dosa yang dibiarkan tumbuh dan motivasi yang salah dalam mengikut Yesus yang terus dipertahankan walaupun bertentangan dengan kehendak Allah; dan akhirnya pengaruh iblis, membuat Judas Iskariot memilih jalan kegelapan, mengkhianati dan menjual Gurunya. Ketika Yesus disalib, Judas Iskariot menyesal tetapi tidak bertobat.
Harusnya ada suatu upaya untuk menghilangkan diri, menjauhkan langkah dari proses pencitraan dan membawa diri dalam kehidupan yang saling memberi pembelajaran.
Bukan lagi pencitraan yang biasanya berakhir dengan pemutusan hubungan dengan Ilahi dan emosi tak bermanfaat.
Judas Iskariot telah berusaha memperbaiki sendiri dosanya dengan mengembalikan uang pengkhianatannya kemudian bunuh diri dengan menggantung dirinya sendiri.
Ini akhir episode kehidupan Judas Iskariot yang tragis. Hanya karena Judas Iskariot tidak lagi menempatkan Yesus sebagai yang utama dalam hidupnya.
Selama ini yang menjadi utama dalam hidupnya adalah dirinya sendiri dan impian-impiannya sendiri. Ia telah memberikan kesempatan dirinya untuk terjebak dalam pencitraan dan meninggalkan Tuhan-Nya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/wanita-menangis111.jpg)