Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Awal 2016, Polda Sulut 'Sikat' 10 Kasus Narkoba, Bongkar Jaringan Antar Pulau

Kepolisian Daerah (Polda) Sulut menyeriusi peredaran Narkoba jaringan antar-pulau dan internasional yang beroperasi di wilayah Sulut.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi sabu-sabu. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kepolisian Daerah (Polda) Sulut menyeriusi peredaran Narkoba jaringan antar-pulau dan internasional yang beroperasi di wilayah Sulut.

Demikian ditegaskan Direktur Resnarkoba Kombes Pol Edi Djubaedi. "Kami akan terus mengejar dan mengungkap sampai ke akar-akarnya," ujarnya, Kamis (28/1).

Untuk Sulut sendiri, saat ini belum ada pabrik Narkoba. Karena dari banyak kasus yang ada, semua berasal dari luar.
"Belum ada pabrik di Sulut. Berdasarkan hasil pengungkapan selama ini, narkoba berasal dari daerah lain," ucapnya.

Dikatakannya, selama Januari 2016 ini, sudah ada sepuluh kasus yang berhasil diungkap Polda Sulut dan jajaran Polres.

"Polda ada tujuh kasus, tujuh tersangka dengan barang bukti dua obat keras dan lima sabu. Polres Bitung satu kasus, satu tersangka, barang bukti ganja. Sedangkan Polresta Manado dan Polres Bolmong, masing-masing satu kasus, satu tersangka, barang bukti sabu," terangnya.

Di antara kasus-kasus yang berhasil diungkap menurut Kombes Edi, kasus Bolmong adalah yang paling menarik. Karena ada dua jaringan berbeda.

"Kasus narkoba di Bolmong sangat menarik karena dari empat kasus yang terjadi, ternyata ada dua jaringan. Dilihat dari barang bukti, berasal dari Tawao Malaysia dan Samarinda Kaltim," katanya.

Sebagai langkah pencegahan dan pemberantasan, Kombes Edi menerangkan setidaknya ada tiga hal yang dilakukan, yaitu penyelidikan, sosialisasi dan rehabilitasi.

"Kami terus melakukan penyelidikan baik berdasarkan informasi dari masyarakat maupun hasil pengembangan kasus-kasus yang terungkap sebelumnya, mengadakan sosialisasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba serta mengedepankan rehabilitasi," terangnya.

Sosialisasi dan rehabilitasi dinilai penting, karena dapat mengurangi demand (permintaan) narkoba. Supply narkoba sangat tinggi karena permintaan juga tinggi.

"Jadi di samping melakukan pengungkapan terhadap supplier, juga akan ditekan melalui rehabilitasi dan sosialisasi untuk menekan pengguna narkoba," imbuhnya. (Tribun Manado/Finneke Wolajan/Ferdinand Ranti)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved