Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tuhan Menyertai Orang yang Diurapi-Nya

Senyum tak berhenti merekah dari bibir tiga orang pastor yang berkarya di keuskupan Manado

Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/DAVID MANEWUS
Pastor Wens Mawikere, Pastor Chris Santie MSC dan Pastor Andre Santie MSC merayakan 40 tahun kesetiaan mereka dalam sakramen imamat . 

Laporan wartawan Tribun Manado David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO- Senyum tak berhenti merekah dari bibir tiga orang pastor yang berkarya di keuskupan Manado yaitu Pastor Wens Mawikere, Pastor Chris Santie MSC dan Pastor Andre Santie MSC, Kamis (24/12). Mereka merayakan 40 tahun kesetiaan mereka menjalankan amanat pelayanan dalam sakramen imamat.

MISA dipimpin Uskup Manado, Mgr Joseph Suwatan MSC. Puluhan pastor, ratusan umat gereja Paroki Santo Paulus Lembean, Minahasa Utara dan tempat lain dimana Pastor Wens berkarya hadir dalam misa ini.
Bagi Wens, kebahagiaan itu bertambah karena ia juga merayakan ulang tahun ke 68 di hari itu. Pada bagian kata pengantar misa, ia mengucapkan terima kasih kepada uskup, imam dan siapa saja yang membantunya menghayati anugerah imamat yang diberikan Gereja itu.

Dalam menghidupi jabatan imamat khusus tradisi Gereja Katolik, di mana para imamnya tidak menikah untuk fokus pada perkara Tuhan sesuai isi Kitab Suci itu, Pastor Wens mengaku di kuatkan oleh cinta Tuhan. Ia mengakui juga bahwa imamatnya jauh dari kesempurnaan. "Memang mungkin ada yang tidak sesuai harapan. Tapi cinta Tuhan yang menolongku," katanya.

Superior daerah Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), Pastor John Luntungan MSC dalam renungannya menceritakan tentang isi undangan perayaan. Di situ katanya ditulis 68 tahun rahmat kehidupan dan 40 tahun kesetiaan sebagai bukti penyertaan Tuhan kepada orang yang diurapinya sebagaimana tertulis dalam 2 Tawarikh 6:42.

"Nah rahmat ini didapatkan Pastor Wens dengan tiga fase yaitu tahap pertama penangkapan, tahap kedua formasi atau pembinaan, dan tahap ketiga perutusan atau tugas pengembalaan. Di tahap pertama, menjelang bulan Agustus 1961, bocah Raratean, Minahasa Selatan, bersama 40-an temannya seperti Agus Suwarauw, masuk Juvenat Tomohon bukan seminari kakaskasen," katanya.

Dikatakannya, Pastor Wens masuk SMP kelas 1 Frateran Kaaten Tomohon karena seminari menengah belum memadai. Setelah itu, ia dan pastor Wens di tahun 1962 masuk fase kedua.

"Kami masuk seminari menengah Kakaskasen. Dari tahun 1961 sampai 1968, kami dibina di seminari Kakaskasen," katanya.

Di tahun 1969, katanya, Wens, masuk Seminari Pineleng. Dan ditanggal 18 Desember 1975, Oa ditahbiskan bersama tiga imam MSC yaitu pastor Chris Santie MSC, Pastor Andre Santie MSC dan Pastor Petrus Canisius Mandagi MSC, Uskup Amboina.

"Mulai mulai tahun 1976, ia sudah dipercayakan menjadi Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Tanawangko. Ia juga menjadi pembina Frater Diosesan Manado dan Amboina di Sentrum Kataketik Lotta," katanya.

Pastor Wens juga kata Pastor John, juga pernah menjadi pastor paroki Santo Yoseph Pekerja Kleak Manado, Ignatius Manado, dan Hati Tersuci Maria Katedral Manado. Ia sekarang menjadi Pastor Paroki Santo Paulus Lembean. "Tuhan setia membimbing dia dalam segala sesuatu. Dalam pengalaman jatuh, bangun, berhasil, dicintai, tapi juga ditolak," katanya.

Pastor John mengatakan Pastor Wens menjalankan tugas pengembalaan dengan setia walau tidak selalu mulus. Ia setia walau mungkin gagal dan mandek.

"Yang saya lihat disiplin merupakan kekayaan dan kekuatannya. Dia taat pada Tuhan, pimpinan keuskupan, pimpinan Unio," katanya.

Dikatakannya, Wens menghargai disiplin di samping banyak keunggulan lainnya. Itu terlihat mulai dari penempatan pertama oleh uskup Theodorus Moors saat itu.

"Itu bukan karena jasanya ia dipilih. Ia bukanlah yang paling hebat atau layak tapi karena ia dicintai Tuhan dan mencintai Tuhan," katanya

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved