Selasa, 19 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Menembus Desa Goyo di Bolmut, Ke Pasar Butuh Waktu 4 Jam

Butuh perjuangan keras untuk menembus Desa Goyo. Terbayang, warganya pun harus berjuang keras dalam menjalani hidup.

Tayang:
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/FERDINAND RANTI
Desa Goyo Bolmut, banyak transmigran asal Jawa memilih balik kampung. 

Laporan wartawan Tribun Manado Ferdinand Ranti

TRIBUNMANADO.CO.ID, BOROKO - Butuh perjuangan keras untuk menembus Desa Goyo. Terbayang, warganya pun harus berjuang keras dalam menjalani hidup.

Ketika jutaan warga bangsa ini merdeka menikmati teknologi gadget, sekitar 200 jiwa penduduk Desa Persiapan Desa Goyo di Kecamatan Bolangitang Barat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara masih sulit sinyal handphone.

Goyo begitu terpencil. Untuk menembus desa itu, dengan m enumpang sepeda motor, dari jalan raya, membutuhkan waktu dua jam lebih dengan menyusuri jalan hancur.

Saat Tribun Manado bertandang ke desa persiapan itu pada Kamis (13/8), terkesan masih sangat terisolir dan meprihatinkan. Bahkan tanda-tanda adanya pembangunan infrastruktur di desa yang dihuni 117 kepala keluarga (KK) itu belum terlihat.

Jalur untuk mengakses desa itu berupa jalan yang masih bebatuan, penuh dengan lubang dan tanjakan. Kemudian harus menyeberangi Sungai Bandes yang memiliki lebar sekitar 45 meter.

Untuk menyeberangi sungai itu, warga menyediakan jasa rakit dengan membayar Rp 3 ribu.

Setelah rakit tambat, harus kembali menempuh jalan rusak sepanjang 15 kilometer. Hanya sepeda motor yang bisa menembusnya. Dan itu harus melalui jalur ekstrem.

Bebatuan seukuran bola kasti hingga sebesar buah semangka berhamburan dijalan. Sebuah perjalanan yang mencerminkan betapa masih belum meratanya pembangunan di daerah yang dipimpin Bupati Depri Pontoh dan Wakil Bupati Suriansyah Korompot.

Begitu sampai di desa itu, terlihat rumah-rumah warga yang mayoritas terbuat dari papan, berlantai tanah dan beratapkan alang-alang.

Pendapatan warga hanya mengandalkan palawija, kelapa, jagung, padi, bumbu dapur, dan hasil kebun lainnya.

Saat itu, Tribun Manado bertemu dengan seorang wanita setengah baya yang mengenakan pakaian sangat sederhana.

Dengan senyumnya yang ramah, dia memersilakan Tribun Manado masuk kerumahnya yang nampak terbuat dari papan.

Hasna Kapiso, demikian nama wanita itu, begitu semangat menceritakan perjuangan desanya untuk meraih kemajuan.

Menurutnya, hingga saat ini, warga merasa jarang sekali merasakan bantuan pemerintah.

"Rasanya tidak ada bantuan sampai di sini yang kami rasakan. Katanya ada bantuan Alokasi Dana Desa (ADD), namun rasanya kami ini belum pernah menikmati," katanya.

Dia pun menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari. Dia hanya mengandalkan berkebun. Namun untuk menjual hasil panennya, dia tak memiliki alat transportasi.

"Ya kalau saya mau jual hasil pertanian, saya jalan kaki, menjualnya ke Pasar Olot," katanya dengan mimik sedih. Maklum, lokasi Pasar Olot begitu jauh dan berliku untuk menembusnya.

Untuk ke pasar itu, masyarakat setempat harus naik ojek dengan tarif Rp 30 ribu. Jadi total pulang pergi membayar Rp 60 ribu.

Namun jika ingin berhemat bisa dengan jalan kaki. Waktu tempuhnya sampai empat jam.

Jadi, besaran duit penjualan hasil kebun pun tak sebanding dengan biaya ke pasar.

"Kalau ada pemerintah yang datang ke sini, kami sangat senang. Yang ada dalam pikiran kami pasti ada bantuan," ungkapnya.

Dia pun meminta pemerintah jangan janji terus. "Janji tinggal janji, kalau jalan aspal, terlalu indah mungkin (mimpi indah), pemerintah tidak pernah kemari," tambahnya.

Begitupun kurangnya MCK di lokasi itu. Beberapa warga tidak memiliki kamar mandi atau tempat buang hajat (toilet).

Sejumlah ibu yang berkumpul saat berbincang dengan Tribun Manado mengaku buang air besar di sungai karena air sungai mengalir. Begitu juga untuk mandi, mereka menggunakan air sungai.

Senada dikatakan Suprapto Atilo, warga setempat yang mengharapkan jalan menuju desanya itu dibangun pemerintah.

Selain infrastruktur jalan, pembangunan fasilitas publik lainnya juga masih sangat dibutuhkan masyarakat di desa yang pernah ditinggali para transmigran asal Pulau Jawa itu.

Para transmigran hengkang juga karena alasan jalan desa yang rusak dan desa yang terpencil.

Hingga kini, hanya satu sekolah yakni Sekolah Dasar (SD), Puskesmas Pembantu (Pustu), Balai Desa dan Musala merupakan hasil karya pemerintah.

"Berharap dengan sangat agar pemerintah daerah memberi perhatian pada kami, terutama pembangunan jalan dan jembatan," ujarnya.

"Kalau pembangunan di desa lain terbilang berlangsung cepat, tapi di sini belum ada sama sekali. Sangat disayangkan, kami juga warga (Bolmut)," sedihnya.

Mantan kepala dusun ini mengatakan, jika hujan turun, jalan menjadi tambah hancur. Banyak sudah korban karena jatuh di jalan itu.

Inang Mokodompit, warga setempat menambahkan, bersama masyarakat lainnya sudah lama ingin menikmati jalan mulus yang terlapisi aspal.

Hanya saja, keinginan tersebut sepertinya belum akan terwujud, apalagi jika melihat jarangnya pemerintah daerah berkunjung ke desa tersebut.

Menurutnya, kendala utama di sini adalah jalan dan jembatan penghubung. "Seandainya jembatan penghubung sudah jadi dan jalan menuju ke sini, pasti kami senang kemana-mana tidak takut melewati jalan rusak bebatuan, apalagi kalau hujan turun, kami takut keluar karena kalau jalan pakai motor pasti tergelincir," jelasnya.

Bantuan dari pemerintah baik dalam bentuk fisik maupun non fisik adalah harapan besar bagi masyarakat setempat.

Untuk itu, bupati, wakil bupati, dan dewan dan para pengambil kebijakan diharapkan tidak tutup mata apalagi tutup telinga dengan kondisi yang dialami masyarakat Goyo.

Perhatian serius perlu diberikan, guna memberikan pemerataan pembangunan yang muaranya pada peningkatan kesejahteraan.

Mereka merupakan para petani yang rajin dan memerlukan uluran tangan berupa bantuan. (ferdinand ranti)

Tags
Bolmut
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved