Rumah Digusur, Warga Kampung Bobo Enggan Pasang Bendera
Biasanya, jelang 17 Agustus, Kampung Bobo ramai dengan pernak - pernik kemerdekaan.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor:
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Kampung Bobo Manado rata tanah. Rumah-rumah warga digusur, Rabu (6/8/2015).
Dengan gaji hanya Rp 500 ribu per bulan, yang seringkali tidak dibayar lancar, Andre tetap berusaha membeli bendera dan umbul - umbul dengan total harga Rp 100 ribu.
"Itu memang sepertiga dari penghasilan saya, namun saya merasa harus memasangnya, tanah air itu mirip permen, manis dan asam harus kita rengkuh," katanya.
Pengamat politik Ferry Liando menilai, kemerdekaan belum terwujud dalam politik. Warga belum memiliki kebebasan memilih. "Mereka terjajah dengan intimidasi yang disertai politik uang," kata dia.
Menurut Ferry, kebebasan menjatuhkan pilihan politik adalah hak asasi setiap warga.
Ferry mengatakan, pemangku kebijakan harus menjamin kemerdekaan warga untuk memilih dengan bersikap konsisten terhadap aturan yang sudah disepakati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/penggusuran-kampung-bobo_20150806_100049.jpg)