Koperasi Nikita Waya Bongkudai Baru Terima Penghargaan Nasional
Koperasi Serba Usaha (KSU) Nikita Waya di Desa Bongkudai Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) akan menerima penghargaan.
Penulis: Aldi Ponge | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Aldi Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Koperasi Serba Usaha (KSU) Nikita Waya di Desa Bongkudai Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) akan menerima penghargaan di tingkat nasional sebagai Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) Berprestasi.
Ketua Koperasi, Fery Mewengkang mengatakan penghargaan tersebut didapat setelah mengikuti seleksi ditingkat propinsi dan nasional.
"Kita diminta presentasi didepan tim dari pusat terkait usaha yang dilaksanakan koperasi. Hasilnya kami jadi pemenang dan diundang ke Jakarta pada 13-19 Agustus untuk menerima penghargaan nasional," bebernya, pada Minggu (9/8)
Dia mengatakan ada empat kabupaten yang mengikuti kategori KEP berprestasi tersebut. Katanya, KSU Nikita Waya sejak berdiri 2005 silam terus aktif dan mengembangkan berbagai usaha.
"Semua usaha kita lakukan seperti simpan pinjam, juali beli hortikultura dan pabrik produksi kopi. Anggota koperasi ada 116 orang dan 716 anggota simpan pinjam," bebernya.
Menariknya, produksi kopi buatan koperasinya tersebut justru sudah dikirim hingga ke Amerika Serikat. Padahal pabrik kopi yang berlabel kopi kapal Fery ini baru diresmikan Bupati Sehan Landjar pada Maret silam. "Produksi besar sudah tiga kali, disesuaikan dengan masa panen kopi. November tahun lalu ada 754 kilogram, Februari tahun ini Rp 1,4 ton bubuk kopi, Juli ada 2,1 ton bubuk kopi. Semua itu diekspor ke Amerika dan dikirim ke Batam," jelasnya.
Jumlah tersebut diluar produksi kopi bubuk untuk pemenuhan kebutuhan lokal yang dijual di warung dan toko di Sulut. "Untuk ke Amerika, mereka yang ambil langsung ke lokasi. Tak ada target, berapa saja yang kami mampu produksi mereka beli," jelasnya.
Untuk mendapat bahan baku kopi secara terus menerus, dirinya mengontrak perkebunan kopi robusta milik warga wilayah Moaat dan Purworejo seluas 35 hektar. "Ada yang kontrak antara tiga hingga empat tahun. Kita yang petik buah kopi dan bersihkan kebunnya," tuturnya.
Sistem kontrak ini, untuk mengantispasi bahan mentah kopi dibawah petani keluar daerah seperti Kotamobagu. Dia berharap mendapat sokongan dana dari pemda agar dapat mengontrak semua perkebunan kopi di Kecamatan Modayag dan Nuangan.
"Selama ini, perkebunan kopi ada di Boltim, tapi yang produksi Kotamobagu. Padahal mereka tak ada bahannya. Untuk itu, saya usulkan ke Bupati untuk menghentikan bahan bakunya dikirim kesana. Buktinya, saat ini tak ada lagi buah kopi di wilayah Moaat yang dibawah ke Kotamobagu," terangnya.
Sehingga dia berharap bantuan dana dari pemda atau pemda memberikan fasilitas jaminan pinjaman ke bank. "Selama ini, belum ada bantuan dari pemda Boltim. Kalau tak ada bantuan dana, setidaknya difasilitasi saja agar dipermudah dapat pinjaman di bank," jelasnya.
Beberapa waktu lalu, Bupati Sehan Landjar sudah menjanjikan akan memberikan bantuan Rp 100 juta kepada usahanya. Namun justru tak ditindaklanjuti oleh Kantor Koperasi, UMKM dan Pasar.
"Proposal saya sudah ajukan, menurut Kakan Koperasi tak ada dana. Itukan dijanjikan Bupati untuk membantu usaha, bukan kami yang minta. Setelah ditolak, saya kembalikan ke Bupati, dan didisposisi lagi ke Kantor Koperasi. Alasannya tetap sama, tak ada dana. Kalau memang tak ada dana tahun ini. Khan bisa diusulkan tahun depan," bebernya.
Kepala Kantor Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Pasar, Jantra Damopolii mengatakan pihaknya tak bisa memberikan bantuan dana dalam bentuk uang tunai. Hal ini sesuai permendagri 39 tahun 2012 tentang pedoman pemberian bansos dan hibah dari APBD.