Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Mengintip Markas Damkar Manado, Kami Ini Malah Dapat Caci Maki

Raungan sirine mobil pemadam kebakaran makin sering terdengar. Kebakaran tak hanya menghanguskan bangunan, tapi juga bukit-bukit.

Penulis: Alexander_Pattyranie | Editor:
TRIBUNMANADO/YOSUA PALANDI
Petugas Pemadam Kebakaran Kota Manado yang saat ini tengah kerja keras mengatasi setiap kejadian kebakaran di Manado. 

Laporan wartawan Tribun Manado Alexander Pattyranie

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO - Raungan sirine mobil pemadam kebakaran makin sering terdengar. Kebakaran tak hanya menghanguskan bangunan, tapi juga bukit-bukit.

Melihat pasukan Pemadam Kebakaran Manado siaga di posnya tentu merupakan hal biasa. Namun melihat mereka begitu tegang serta tak tenang di posnya, jelas pemandangan di luar kebiasaan.

Ya, mereka kini dalam kondisi siaga satu menyusul kejadian kebakaran beruntun dalam beberapa hari terakhir.

Kamis (6/8) siang, televisi di pos Damkar hanya ditonton sejumlah staf. Para personel Damkar tengah berada di garasi mobil Damkar serta ruang persiapan.

Seperti layaknya suasana sebelum perang, wajah mereka dingin. Dua kejadian kebakaran terjadi Kamis itu. Mereka siaga jika ada kebakaran lagi.

"Kita siaga penuh," kata seorang petugas.

Kadis Damkar Manado Sonny Rompas mengatakan, pihaknya sementara siaga satu karena kebakaran terjadi setiap hari. Tak hanya rumah yang terbakar, namun juga lahan kosong.

Saat ini, kata dia, mobil pemadam berjumlah 14 unit. Tiga diantaranya stay di Mapanget, Malalayang serta Tuminting. Jika ada kebakaran, cepat hubungi nomor telepon 864444.

Kebakaran menjadi ancaman, termasuk efek dari el nino. Kemarau panjang ditingkahi angin kencang, membuat api makin leluasa mengamuk.

Bahkan pada Selasa lalu, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Manado harus menangani enam peristiwa kebakaran di tempat-tempat yang berbeda.

Keenam peristiwa tersebut antara lain di Taman Sari Kecamatan Mapanget, Batu Kota, Malalayang, lahan kosong di bukit depan Tribun Manado, alang-alang di Ranotana, dan mobil yang terbakar di Jalan 14 Februari Teling.

Saat sedang menuju suatu lokasi yang terbakar, dalam perjalanan mendapatkan laporan kebakaran di lokasi lain, mereka pun berusaha bekerja sesuai prosedur dengan cepat.

Namun, setiap jerih paya yang dilakukan mereka, selalu dipandang sebelah mata oleh banyak masyarakat.

"Tidak pernah kami diberi tepuk tangan, hanya ada caci maki," keluh Sonny Rompas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved