Kamis, 9 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Imigran Afganistan Lebih Banyak Memilih Tinggal di Manado, Ini Alasannya

Ya, di Kota Manado, sedikitnya 72 imigran pencari suaka ditampung di rumah penampungan Imigrasi Sulawesi Utara - Manado.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:
TRIBUNMANADO/YOSUA PALANDI
Imigran asal Afganistan saat membuat makanan untuk berbuka puasa. Mereka sebagian besar lebih suka tinggal di Rudenim Manado daripada rudenim lainnya, Selasa (7/7/2015). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - "Selamat malam." Demikian sapa dua pria asing kepada Tribun Manado kala ingin mendatangi sebuah warung kopi, tak jauh dari rumah penampungan imigran di Jalan AA Maramis Manado, suatu malam.

Di waktu berbeda, masih tak jauh dari rumah penampungan itu, sejumlah pria asing duduk santai menikmati saraba dan aneka hidangan makanan ringan.

Setiap ada yang datang di warung tersebut, pria- pria asing itu menyapa dengan ramah menggunakan bahasa Indonesia dengan cengkok nada yang terdengar aneh.

Ya, di Kota Manado, sedikitnya 72 imigran pencari suaka ditampung di rumah penampungan Imigrasi Sulawesi Utara.

Kepala Sub Seksi Penindakan Kantor Imigrasi Kelas 1 Manado, Kiven Manus, Selasa (7/7/2015) mengatakan, Manado memang menjadi favorit tujuan para pencari suaka karena dikenal aman.

"Mereka pilih Manado karena orangnya ramah-ramah," ujarnya.

Manus mengambil kesimpulan demikian setelah mendengar kesaksian sejumlah imigran tentang kebaikan warga Manado.

Mereka, kata dia, menyebut orang Manado ramah serta suka membantu. Perlakuan berbeda mereka alami di kota lain, dimana warga setempat sama sekali tidak ramah. "Mereka merasa nyaman di sini," katanya.

Mungkin saking nyamannya sampai tersiar kabar ada imigran yang ikut menenggak minuman keras bersama warga.

Seorang imigran, Nahwi asal Afghanistan mengakui pernah mencicipi cap tikus bersama warga.

Menurut Nahwi, minum bersama warga sebagai bagian menghargai terhadap ajakan. Sepekan, bisa minum bareng hingga dua hingga tiga kali. Bahkan ada juga yang pacaran dengan warga.

"Saya sering keluar dan ikut minum dengan warga. Warga sangat baik," ujarnya.

Nahwi mengaku diberi keleluasaan untuk keluar, asal tidak jauh dari rumah penampungan.

"Kami tidak dilarang kalau keluarnya dekat-dekat, biasanya di pagi hari atau sore hari,"ujarnya.

Terhadap isu adanya imigran yang ikut pesta miras ini, Manus memilih tidak memberikan komentar. "Wah bukan wewenang saya menjawab itu," kata dia.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved