Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sandaniel Senang Memiliki TabunganMU

Sandaniel Senduk warga Karombasan yang bekerja di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemerintah Kota (Pemko) Manado terlihat ceria.

Penulis: | Editor:
ISTIMEWA
Para undangan yang hadir dalam peluncuran laku mikro Bank Mandiri area Manado berjoget bersama saat menyanyikan lagu TabunganMU. 

Laporan Wartawan Tribun Manado Herviansyah

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO- Sandaniel Senduk warga Karombasan yang bekerja di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemerintah Kota (Pemko) Manado terlihat ceria, sebab saat ini dirinya telah memiliki rekening tabungan untuknya mengumpulkan penghasilan yang didapatkan setiap hari.

"Saya sebelumnya tak memiliki tabungan, karena untuk membuka tabungan membutuhkan uang yang cukup besar," ujarnya di sela Peresmian Cabang Pilot Laku Mikro
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
KCP Manado Karombasan, Senin (8/6/2015).

Dengan adanya TabunganMU dari Bank Mandiri dirinya bisa menabung, sebab untuk setoran awalnya yang cukup murah dibandingkan dengan tabungan yang konvensional. "Dengan tabungan ini saya bisa menabung hanya dengan Rp 10 ribu," ungkapnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Lady Pandelaki pedagang jagung di Pasar Karombasan yang mengungkapkan merasa senang dengan adanya tabunganMU dari Bank Mandiri, sebab dirinya bisa menyisihkan uang hasil penjualannya untuk ditabung. "Apalagi untuk menabung tidak perlu banyak," ungkapnya.

Hal ini menurutnya sebelumnya dirinya tidak pernah memiliki tabungan di bank, sebab penghasilannya tidak menentu untuk ditabung. "Kalaudengan tabungan ini, berapa pun bisa dtabung," katanya.

Sedangkan dalam sambutannya Vice President Bank Mandiri Area Manado Hotman Nainggolan mengungkapkan peluncuran Laku Mikro di Karombasan merupakan wujud nyata dari semangat membangun negeri dari Bank Mandiri. Dalam artian tidak hanya pedagang-pedagang besar saja yang dilayani, melainkan juga pedagang mikro, yang ada di pasar juga mendapatkan pelayanan jasa keuangan.

Laku mikro merupakan layanan industri keuangan secara menyeluruh, mulai dari perbankan,investasi emas, reksadana dan asuransi yang menyasar masyarakat. Dia mencontohkan untuk produk perbankan ada tabungan Mandiri Usaha (TabunganMU) yang setoran awalnya hanya Rp 50 ribu, sedangkan untuk setoran selanjutnya minimal Rp 10 ribu. Dan nasabah sudah mendapatkan ATM. "Untuk biaya administrasinya pun hanya Rp 3.500. Hal ini tentu saja berbeda dengan tabungan kovensional yang setoran awalnya Rp 500 ribu," katanya.

Sedangkan untuk investasi emas, pihaknya bekerjasama dengan anak perusahaan, yatu Bank Syariah Mandiri, dimulai dengan hanya Rp 100 ribu sudah bisa menyicil emas, dengan berat minimal 1 gram. Begitu pula dengan reksadana juga sama, hanya dengan Rp 100 ribu masyarakat sudah bisa berinvestasi secara berkala dengan berbagai pilihan, yaitu pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham dan indeks.

Sedangkan untuk asuransi hanya dengan Rp 12 ribu masyarakat sudah bisa mendapatkan asuransi kecelakan diri dengan santunan sebesar Rp 10 juta. "Untuk asuransi kami bekerjasama dengan AXA Mandiri," ungkapnya.

Menurutnya kehadiran dari laku mikro untuk meliterasi keuangan kepada masyarakat yang belum terjangkau dengan produk jasa keuangan. Hal ini merupakan program dari pemerintah dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Dengan demikian produk jasa keuangan akan semakin mendekatkan diri kepada masyarakat," ungkapnya.

Untuk area Manado jumlah layanan laku pandai sebanyak 24 unit. Namun hal itu akan dilakukan secara bertahap. Dengan demikian nantinya masyarakat akan dengan mudah mendapatkan layanan jasa keuangan.

Plh Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara Dwi Suharyanto mengungkapkan untuk laku mikro pada dasarnya bertujuan meningkatkan literasi keuangan kepada masyarakat. Hal ini karena berdasarkan survei yang dilakukan oleh OJK tingkat literasi keuangan masyarakat masih rendah. "Untuk perbankan hanya sekitar 20-30 persen, sedangkan jasa keuangan lainnya dibawah 10 persen," tuturnya.

Hal ini tentu saja cukup memprihatinkan, sebab dinegara lain literasi keuangannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia. Untuk itu OJK menargetkan setiap tahunnya pengetahuan masyarakat mengenai jasa keuangan naik sekitar 2 persen.

Dengan literasi yang tinggi diharapkan utilisasi keuangan juga meningkat. Sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat dari produk-produk jasa keuangan. Bukan hanya produk perbankan, melainkan jasa keuangan lainnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved