Kamis, 14 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cukup Rp 10 ribu, Bisa Belajar Buat Keramik di Desa Pulutan

Ingin tahu gimana rasanya terlibat langsung dalam pembuatan keramik? Anda akan menemukannya di Desa Pulutan.

Tayang:
Penulis: Finneke | Editor:
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Cukup keluarkan Rp 10 ribu Anda sudah bisa belajar membuat keramik di Keramik Pulutan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TRAVEL - Ingin tahu gimana rasanya terlibat langsung dalam pembuatan keramik? Anda akan menemukannya di Desa Pulutan, Kecamatan Remboken, Minahasa.

Jika berkunjung ke Sulawesi Utara, apa salahnya jika menyempatkan diri ke desa yang menjadi pusat kerajinan keramik ini, yang sekaligus sebagai destinasi wisata favorit di Kabupaten Minahasa.

Kerajinan keramik di desa ini merupakan tradisi turun temurun. Dari orangtua hingga anak-anak, umumnya dibekali ilmu membuat keramik. Warga pun pun terus menjaga tradisi ini.

Desa ini tak jauh dari danau Tondano. Hawanya sejuk, dan berada di tengah persawahan dan perkebunan warga. Hening dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota.

Memasuki desa, pengunjung akan disambut dengan tugu selamat datang, yang di atasnya dibuat keramik raksasa yang dicat coklat. Di sepanjang jalan desa, akan terlihat rumah-rumah yang di depannya ditaruh keramik-keramik hasil kerajinan.

Karena telah masuk kawasan wisata, warga setempat sudah terbiasa dengan kedatangan orang asing. Sapaan ramah dengan senyum mengembang warga setempat akan menyambut para wisatawan.

Meski warga rata-rata memproduksi keramik, tapi tak semua bisa melayani wisawatan untuk membuat keramik. Itu hanya bisa dilakukan di pusat pelatihan keramik Pulutan.

Di tempat ini, wisatawan bisa merasakan langsung bagaimana membuat sebuah keramik. Mulai dari proses pembentukan hingga pembakaran. Para pendamping yang merupakan pengrajin profesional akan menuntun wisatawan.

Untuk bisa merasakannya, wisatawan hanya perlu mengeluarkan Rp 10 ribu tiap orang, selama satu jam. Harga tersebut berlaku tiap kelipatannya. Harga tersebut berlaku bagi wisatawan lokal. Untuk turis asing, harganya dilipat gandakan menjadi Rp 150 ribu.

Revlin Kowaas, pengelola pusat pelatihan tersebut mengatakan pihaknya memang sengaja memberlakukan harga demikian karena kelas wisatawan lokal dan internasional itu berbeda.

"Kalau orang lokal mungkin sering lihat yang seperti ini, karena banyak tempat yang membuat keramik. Kalau bule, momen-momen seperti itu mahal harganya," ujarnya saat disambangi Tribun Travel, Senin (25/05/2015).

Selain pengalaman bagaimana membuat keramik sendiri, di tempat ini pula tersedia berbagai souvenir keramik khas Sulawesi Utara untuk dibawa ulang.

Souvenir keramik tersebut berukuran kecil, seperti gantungan kunci, kalung pin dan barang lainnya. Semisal bentuk tarsius, yang merupakan hewan endemik Sulawesi Utara. Ada juga ikan Coecalanth, ikan purba yang ditemukan di laut Manadi beberapa waktu lalu.

Souvenir-souvenir tersebut berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 100 ribu per satuannya. Tergantung model dan ukurannya. Yang ingin membeli keramik berukuran besar juga bisa. Berbagai jenis dan ukuran dihargai di kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta.

Dari Kota Manado, butuh waktu berkendara sekitar 90 menit dalam kondisi jalan normal. Jika macet, bisa memakan waktu sekitar dua jam perjalanan.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved