Komunitas Wala, Sang Penjaga Waruga
Umumnya anak muda berpikir tentang pacaran atau game online terbaru, Charlie Samola malah tenggelam dalam pikiran tentang Waruga.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Arthur Rompis
TRIBUNMANADO.CO.ID - Umumnya anak muda berpikir tentang pacaran atau game online terbaru, Charlie Samola malah tenggelam dalam pikiran tentang Waruga.
Ia berpikir keras bagaimana menyelamatkan Waruga di Desa Kolongan Kabupaten Minahasa Utara, tempatnya bermukim, yang terus dijarah. "Banyak sekali isi waruga yang dijarah," katanya.
Charlie tergabung dalam komunitas Wala yang berpusat di Desa Kawangkoan. Komunitas itu memiliki tujuan mulia, menggali kearifan lokal Minahasa serta melakukan penyadaran budaya kepada generasi muda.
Maraknya pencurian isi waruga serta terancamnya warisan purbakala itu oleh pembangunan jalan tol, menjadi perhatian utama komunitas ini.
"Keberadaan waruga sepertinya terlupakan generasi masa kini, padahal waruga adalah sebuah bukti peradaban yang bisa menjelaskan siapa kita, darimana kita berasal," tuturnya.
Charlie membeber, komunitas itu dibentuk atas prakarsa Deky Karongkong warga Desa Kawangkoan. Deky yang mendapat amanat dari Tonaas untuk memerhatikan warisan adat di Kalawat, lantas mendirikan komunitas itu.
Komunitas itu menarik banyak warga masyarakat yang peduli budaya. Charlie yang merupakan anggota mula - mula komunitas itu membeber, anggota komunitas kini berjumlah sekira 50-an orang.
"Anggota komunitas terdiri dari buruh, anak kuliah, petani, pelajar serta aktivis," kata dia. Charlie menyebut peran sejumlah budayawan, yang rutin mengunjungi komunitas itu, untuk memberi arahan serta solusi jika menghadapi kesulitan. "Kami sering mengadakan diskusi budaya, lalu mengundang mereka," tuturnya.
Selain diskusi budaya, komunitas itu juga rutin menggelar ritual adat serta ziarah budaya. Menurut Charlie, ziarah budaya adalah penelusuran kembali jejak kebudayaan di tanah Tonsea.
"Pelaksanaannya mirip film tomb rider yang diperankan Angelina Jolie, jika mendengar ada peninggalan budaya di suatu tempat, maka akan kami telusuri," kata dia.
Dalam penelusuran, ia membeber, seringkali anggotanya menemukan benda - benda bersejarah seperti keramik tua, kalung, piring serta waruga tersembunyi. Benda - benda hasil temuan itu kemudian diberikan ke instansi terkait. "Kami mau agar itu diteliti," kata dia.
Ia menceritakan, pernah menemukan sebuah gerabah kuno di sekitar Waruga Watukuse di Kolongan, yang sayangnya dicuri orang. "Gerabah itu kami taruh di kebun, ketika kami akan kembali mengambilnya, gerabah itu sudah tak ada, katanya diambil orang," kata dia.
Charlie mengakui, tak mudah membentuk masyarakat sadar budaya. Alih - alih sadar, sejumlah masyarakat malah mengidentikan budaya dengan animisme. Komunitas Wala juga sering dianggap mempraktekkan animisme.
"Padahal kita hanya mau gali budaya, kita hanya mau melestarikan saja, budaya Minahasa mengenal opo sebagai pencipta alam, dari situ turun aturan serta norma yang membentuk kehidupan masa kini kita," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/komunitas-wala-penjaga-waruga_20150510_121943.jpg)