Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Minggu

Memuliakan Tuhan dengan Harta Kita

Semua manusia yang hidup di dalam dunia ini pasti mengharapkan kekayaan.

Editor: Fransiska_Noel
zoom-inlihat foto Memuliakan Tuhan dengan Harta Kita
NET
Ilustrasi

Pdt Stenly J Sela
GMIM Victory Minanga Indah Malalayang

TRIBUNMANADO.CO.ID - Semua manusia yang hidup di dalam dunia ini pasti mengharapkan kekayaan. Bagi sebagian orang, tahun baru ini pun barangkali telah dipastikan menjadi ajang merebut banyak uang untuk mengisi pundi-pundi yang ada.

Kita tidak bisa munafik dengan mengatakan: "Saya tidak ingin kaya!". Menjadi kaya bukanlah dosa. Tidak ada ayat dalam Alkitab yang menyebutkan bahwa orang Kristen tidak boleh kaya dan hidup dalam kelimpahan.

Justru sebaliknya. Tuhan rindu anak-anak-Nya memiliki kehidupan yang berhasil dan diberkati, karena untuk itulah Dia datang seperti yang dikatakan dalam Yohanes 10:10b.

Persoalannya adalah sejauh mana, anak-anak Tuhan mempergunakan dan memanfaatkan kekayaan yang ada untuk kemuliaan Tuhan, sebab kecenderungan yang terlihat adalah bahwa banyak orang yang tidak cerdas menggunakan semua yang ada padanya sehingga mereka jatuh pada kesombongan dan berbagai sikap negatif lainnya.

Dalam bacaan ini, kita menemukan gambaran tentang bagaimana seharusnya kita melihat semua berkat yang Tuhan berikan kepada kita. 1 Timotius 6:17-19 berbicara tentang perintah Rasul Paulus kepada Timotius agar memberikan peringatan kepada orang-orang kaya.

Perintah ini tidak berbicara agar orang kaya meninggalkan kekayaannya dan menjadi orang miskin atau hidup dalam kekurangan atau pas-pasan. Paulus bermaksud agar orang-orang kaya, yang secara materi berlebihan, memiliki sikap hati yang benar terhadap kekayaan yang dimilikinya.

Beberapa nilai penting dari firman ini adalah: 1. Jangan tinggi hati (6:17a). Rasul Paulus mengatakan kepada Timotius agar mengingatkan jemaat yang kaya (baca: memiliki banyak materi) agar tidak tinggi hati. Harta milik yang diperoleh dengan benar dan kerja keras tetaplah harus dihayati sebagai anugerah Tuhan yang bersifat sementara sebab itu tidak perlu disombongkan. Apalagi harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar alias mencuri, korupsi, dsb.

2. Jangan berharap kepada kekayaan (6:17b). Kekayaan materi dan harta benda tidak abadi. Dunia dan jaman selalu berubah. Tidak seorang pun manusia yang dapat memiliki segala-galanya dan selama-lamanya. Materi (uang, tanah, harta bergerak) betapapun permanen tetap tidak abadi. Apalagi kita manusia yang memiliki atau menguasainya. Umur kita di dunia ini juga terbatas.

Masa hidup kita di dunia terbatas sebab itu kita disadarkan agar tidak menjadikan materi atau pemilikan materi sebagai tujuan akhir atau nilai tertinggi dalam kehidupan ini. Materi sungguh dibutuhkan sebagai alat, bekal dan modal, namun bukan sebagai tujuan satu-satunya atau akhir kehidupandan bukan pula jaminan kebahagiaan hidup.

3. Berharaplah kepada Allah yang memberi kita segala sesuatu untuk dinikmati.

Allah Bapa kita tahu kebutuhan kita dan mau mencukupkanya. Allah sangat mengasihi kita dan memberikan kepada kita lebih daripada yang kita minta (Efesus 3:20).

Namun bagaimanapun juga Allah tetap lebih berharga daripada berkat-berkatNya. Pengorbanan Anak-Nya yang menebus kita dari kematian dan Roh Kudus yang dicurahkan ke hati kita jauh lebih tinggi daripada segala karunia-Nya yang lain. Hidup dalam Kristus sungguh mulia dan tiada bandingnya. Sebab itulah orang-orang beriman dapat sukacita sepanjangwaktu. Sebab itulah kebahagiaan kita tidak tergantung situasi dan kondisiekonomi kita.

4. Jadilah kaya dalam kebaikan (6:18). Kekayaan selalu diartikan kaya secaramateri. Namun Alkitab mengajak kita memahami kekayaan juga dalam bentuklain, yaitu dalam hal kebajikan. Itu jugalah yang dikatakan Rasul Paulus kepadajemaat Korintus (2 Kor 9:8).

Kekayaan jangan diartikan lagi secara sempit. Kita juga harus berusaha kaya dalam pengetahuan, pengalaman, karya dan prestasi, hubungan atau jaringan, dan terutama dalam kebajikan, dalam kasih dan kepedulian, dalam memberi persembahan dan diakonia. Disini makna kekayaan sekaligus menjadi relatif. Ada orang yang memiliki banyak materi namun selalu saja merasa sangat miskin dan kekurangan, sebab itu sangat sulit memberi.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved