Renungan Minggu
Panik atau Tenang Saat Hadapi Hal Ini? Semoga Pilihan Kita Bijak
kesusahan tak pernah mau dicari oleh semua orang. Tapi apabila kesusahan itu datang, tak satu pun yang dapat mengadangnya.
Pdt Stenly J Sela
GMIM Victory Minanga Indah Malalayang
TRIBUNMANADO.CO.ID - kesusahan tak pernah mau dicari oleh semua orang. Tapi apabila kesusahan itu datang, tak satu pun yang dapat mengadangnya.
Cara bijak yang dapat kita lakukan adalah berusaha tenang dan mempelajari situasi sambil menemukan hikmah di balik semuanya.
Kesusahan itu memang tak pandang bulu, jenis kelamin, tua atau muda. Sifatnya universal. Berlaku di semua tempat dan kepada siapa saja.
Tapi sesungguhnya, selalu ada pelajaran yang dapat kita ambil. Murid-murid Yesus yang dikisahkan dalam bacaan ini ternyata juga sedang mengalami kesusahan.
Kesusahan itu mereka alami karena mereka hampir habis tenaga ketika mendayung perahu menuju Betsaida. Bukan tanpa alasan, sebab ada angin sakal yang memperlambat kerja mendayung mereka.
Mereka umumnya adalah nelayan dan tentu mahir berenang. Tapi mereka pasti tak berpikir membiarkan perahu mereka tenggelam begitu saja dan mereka mati binasa.
Jadi alkitab memberi kesaksian bahwa mereka mendayung dan terus mendayung meski payah. Di saat itulah Yesus datang dengan berjalan di atas air, kira-kira jam 3 malam.
Kepanikan saat itu mungkin menutup mata para murid sehingga mereka mengenali Guru mereka sebagai hantu. Jelas, ketakutan kini melanda mereka dan pasti menambah kesusahan di dalam perahu yang sedang terombang-ambing itu.
Teriakan histeris bernada ketakutan lalu dilantangkan. Kepanikan melanda. Di momen itulah Yesus berkata: tenanglah! Aku ini, jangan takut! Ia segera naik ke perahu, mendapatkan mereka dan redalah angin di danau.
Murid-murid makin bingung, mereka terhenyak dan tak mengerti apa-apa. Markus mencatat, hati mereka tetap degil. Ternyata tidak...
Kita mungkin menyangka bahwa murid-murid yang notabene adalah 'pengawal' Yesus ke mana-mana adalah kelompok orang yang bersih dari masalah, kesusahan, ketakutan, dan sebagainya.
Susah tak dicari tetapi bisa datang pada siapa saja. Bagaimana selanjutnya? Menyerah? Tak berbuat apa-apa? Minimal kita harus terus 'mengayuh penggayung' kita.
Terjang badai kesusahan semampu kita. Ingatlah, Yesus bisa datang kapan saja dan bisa membuat kita terkaget-kaget. Bukan untuk mengagetkan kita tetapi untuk turun tangan menghalau kesusahan anak-anak-Nya.
Di sementara kita 'terus mendayung', nantikanlah Dia. Tapi jangan menyangka Dia adalah hantu. Atau jangan sampai kita berteriak kepada 'hantu-hantu' alias 'setan-setan' alias kuasa kegelapan.