Edisi Minggu Smart Woman
Taklukkan Kilimanjaro
Keberhasilan Lidya Juliana Tumoka menaklukkan puncak tertinggi di Benua Afrika dilewati dengan perjuangan yang berliku-liku.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID - Keberhasilan Lidya Juliana Tumoka menaklukkan puncak tertinggi di Benua Afrika dilewati dengan perjuangan yang berliku-liku. Ia harus berjuang melawan kelemahan tubuhnya agar bisa menginjakan kaki di titik tertinggi Gunung Kilimanjaro Afrika.
Senang dan bangga, itulah rasa yang hadir di benak Lidya saat mengetahui ia terpilih sebagai peserta terbaik dalam pusat pelatihan ekspedisi 7 puncak dunia, program MPA Aesthetica FBS Unima. Meski begitu, ada rasa gugup yang menghampiri gadis kelahiran Manado 1 Juli 1992.
"Saat itu saya berpikir bagaimana saya bisa melewati ekspedisi Gunung Kilimanjaro ini sendiri, tanpa ditemani orang-orang yang saya kenal. Medan baru, yang belum pernah terpikirkan oleh saya," ujarnya saat bersua dengan Tribun Manado, Sabtu (11/10/2014).
Persiapan yang dilakukan memakan waktu lumayan lama, yaitu sejak akhir 2013 lalu. Ekpedisi Kilimanjaro ini adalah kegiatan ketiga dari program ekspedisi tujuh puncak tertinggi dunia MPA Aesthetica FBS Unima yang dikhususkan untuk wanita, setelah sebelumnya berhasil menakhlukan Gunung Jayawijaya Indonesia dan Gunung Elbruz Rusia.
"Kami melalui tahapan seleksi. Ada empat yang ikut, namun sayalah yang menempati tempat pertama dalam penilaian tes. Sementara lainnya tetap dipersiapkan, hanya saja karena keterbatasan dana, sehingga yang terbaiklah yang ikut ekspedisi ini," kata mahasiswi Semester 7 Pendidikan Bahasa Inggris FBS Unima ini.
Perjalanan Lidya di Gunung Kilimanjaro memakan waktu lima hari, pulang pergi. Hawa di gunung tersebut, menurut Lidya sangat dingin. Namun teriknya matahari tetap terasa. Apalagi saat ini berada pada musim panas sehingga dehidrasi selalu menghampirinya.
"Matahari sangat menyengat, tapi dingin sehingga tetap harus memakai jaket tebal. Cuaca begitu sering membuat dehidrasi, beruntung perbekalan banyak. Saljunya nanti setelah di puncak, karena ini pas musim kemarau. Katanya kalau tak musim panas, saljunya sampai ke bawah," terangnya.
Dalam perjalanan, ia beberapa kali bertemu dengan hewan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Seperti monyet putih, bunglon dan hewan-hewan lainnya. Hal itu tentu memberi kesan tersendiri baginya, terutama memberi secuil semangat untuk terus mendaki.
"Afrika terkenal dengan kekayaan flora dan faunanya. Banyak hewan yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Dan mungkin hanya kali itu saja saya melihat langsung hewan sejenis itu," urai wanita yang murah senyum ini.
Lidya begitu semangat dalam perjalanannya menuju puncak, namun suatu waktu di pos yang hampir mencapai puncak, Lidya sangat drop serasa tak sanggup lagi meneruskan perjalanannya. Pemandunya pun mengatakan jika tak mampu, tak usah lanjutkan perjalanan. Namun saran tersebut ditolaknya.
"Sudah sejauh itu perjalanan, sangat tanggung jika menyerah begitu saja. Saya bilang ke pemandu saya terus lanjutkan perjalanan. Meski mereka juga bilang lihat nanti, jika ternyata tak bisa, kami akan turun," kenangnya.
Keletihan dan kelemahan terus menggodanya untuk menyerah. Namun keyakinan dan tekadnya yang besar berhasil menghantarnya sampai puncak. Meski memang, bukan hal mudah baginya.
"Banyak yang mendukung dan mendoakan saya. Itu menjadi penyemangat besar bagi saya untuk tidak menyerah. Meski sudah sangat drop. Alhasil, saya berhasil sampai di puncak tertinggi Gunung Kilimanjaro," ucapnya bangga.
Dalam ekspedisi tersebut, kata dia, hal utama bukannya mencapai puncak. Namun keselamatanlah yang menjadi hal utama dalam ekspedisi ini.
"Teman-teman dan senior-senior MPA Aesthetica bilang yang terpenting bukanlah mencapai puncak, yang utama adalah keselamatan. Capai puncak itu hanyalah bonus. Saya terus mengingat itu," ungkapnya.