Renungan

Gereja dan Pemerintah Harus Saling Mendukung

Kalau kita mengasihi seseorang, maka kita akan mengabaikan dan menutupi (tak menyebarkan) kesalahan dari orang lain.

Oleh Pendeta Dan Sompe
Ketua Jemaat GMIM Maranatha Paslaten Tomohon

Yeremia 29 : 1-14, 1 Petrus 4:7-11

DARI pembacaan tersebut, dapat diketahui bahwa Yeremia menulis surat ini sesudah Raja Yekhonya beserta ibu suri, pegawai istana, pemuka Yehuda dan Yerusalem serta tukang keluar dari Yerusalem, yang ditujukan kepada orang-orang Yerusalem yang berada di pembuangan atau sementara ditawan oleh Raja Nebukadnezar di Babel.

Surat ini dikirim memakai perantara Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia yang diutus oleh Zedekia, raja Yehuda ke Babel kepada Nebukadnezar raja Babel. Terlihat disini ada hubungan hubungan yang harmonis antara Yeremia dan Raja Yehuda Zedekia. Artinya ada hubungan yang harmonis antara lembaga agama dan pemerintahan. Tapi, hubungan yang harmonis ini bukan sekadar formalitas, tapi hubungan yang baik itu diwujudkan melalui keprihatinan terhadap kehidupan bangsa.

Yeremia sebagai nabi menulis surat dan Raja Sedekia yang menyediakan kurir surat untuk dibawa kepada Nebukadnezar Raja Babel. Ini membuktikan bahwa ada keprihatinan bersama terhadap nasib bangsa. Jadi, kerja sama bisa terjalin jika semua pihak memiliki keprihatinan. Artinya, antara pihak lembaga agama, dalam hal ini termasuk gereja dengan pihak pemerintah harus saling mendukung dan tidak boleh saling bersaing negatif, apalagi saling menjatuhkan. Harus ada satu tujuan, yakni membebaskan orang dari berbagai belenggu, penjajahan sosial, ekonomi, dan politik, karena warga gereja adalah warga masyarakat, dan warga masyarakat juga terdiri dari warga gereja.

Dalam surat itu ditegaskan bahwa umat Israel adalah bangsa yang religius, beragama, jadi ke manapun dan dalam situasi apapun serta bagaimanapun, harus dapat berpikir dan bertindak sesuai kehendak Tuhan, jangan dikaburkan dengan situasi dan kondisi. Kepercayaan kepada Tuhan adalah harga mati, yang tidak boleh diganti dengan materi, jabatan, atau kepercayaan lain-lain.

Sekalipun berada di tempat pembuangan, umat Israel diajar untuk mencukupkan diri, baik kebutuhan primer, rumah, sandang dan pangan, serta harus mampu menciptakan lapangan kerja supaya tidak bergantung pada orang lain, apalagi jadi peminta-minta dan hidup dalam kemiskinan. Umat Israel juga diajar untuk ikut membangun kota dan berdoa bagi pemimpinnya, sebagai penyelenggara pemerintahan untuk mensukseskan berbagai program baik yang direncanakan, sementara dan akan dilaksanakan.

Jadi, dari bacaan ini umat Kristiani masa kini sebagai orang beriman, tidak boleh hanya mengurus diri sendiri dan berdiam diri. Tapi harus bekerja keras membangun keluarga, menciptakan lapangan kerja, dan menjadi saluran berkat bagi sesama, bangsa dan negara.

Sedangkan dalam surat Petrus, umat Kristiani diajar untuk menguasai diri dan menjadi terang agar dapat selalu berdoa. Sebab, di zaman sekarang kenyataannya banyak orang yang tidak memiliki waktu lagi untuk berdoa. Maksudnya, waktu itu selalu ada tapi semua dipakai untuk mengejar harta, prestasi, dan prestise.

Setiap umat Kristiani juga harus mampu mengasihi semua orang, termasuk yang kafir sekalipun, tapi yang utama adalah mengasihi saudara seiman. Sebab, segala sesuatu baik dalam pelayanan, persembahan, ibadah, doa, dan ketaatan menjadi hal-hal yang mati tanpa adanya kasih.

Kasih itu menutupi banyak sekali dosa. Ini tidak berarti bahwa kasih kita kepada orang lain akan menyebabkan Allah mengampuni pelanggaran kita. Tapi, kalau kita mengasihi seseorang, maka kita akan mengabaikan dan menutupi (tak menyebarkan) kesalahan dari orang lain. Jadilah berkat dan teladan bagi semua orang. Amin.

Penulis: Warsteff_Abisada
Editor: Robertus_Rimawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved