Kebudayaan
ISBSU Luncurkan Kamus Bahasa Tonsawang
Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) secara resmi meluncurkan kamus Tonsawang/Toundanow, Minggu (9/12).
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) secara resmi meluncurkan kamus Tonsawang/Toundanow, Minggu (9/12).
Peluncuran kamus ini dilaksanakan secara sederhana lokasi ISBSU, Komplek Pacuan Kuda Maesa Tompaso. Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum ISBSU, Dr Benny J Mamoto, penyusun kamus Tonsawang, Drs Ferdinand J Kalangi, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Bambang Wibawarta dan jajaran.
Penyusun kamus tersebut, Drs Ferdinand J Kalangi mengatakan kamus tersebut disusun dalam jangka waktu lebih dari 50 tahun. Menurutnya secara bertahap dirinya menginfentaris kata-kata dalam bahasa Tonsawang dan mencari artinya dalam bahasa Indonesia. Sejak awal dirinya hanya menyusun kata-kata tersebut tanpa pernah terpikir untuk dibuat dalam bentuk kamus resmi.
"Dalam kamus ini ada sekitar 5.000 kata dalam bahasa Tonsawang yang telah diberi penjelasan dalam bahasa Isndonesia. Saya berharap kamus ini bisa berguna sebagai bahan untuk mempelajari bahasa Tonsawang," ujarnya.
Benny Mamoto mengatakan pihaknya sangat tertarik untuk terus mendokumentasikan bahasa-bahasa daerah di Sulut. Langkah tersebut dilakukan berdasarkan fakta kalau Unesco mencatat ratusan bahasa daerah di dunia telah punah. Lebih memiriskan lagi, dari 746 bahasa daerah di Indonesia, 726 diantaranya terancam punah.
"Kita bekerja dikejar waktu. Semakin hari semakin sedikit nara sumber yang bisa dijadikan bahan untuk mengumpulkan kata-kata dalam daerah. Kamus bahasa Tonsawang adalah kamus kedua yang kami luncurkan setelah kamus bahasa Tountemboan. Kami menargetkan 2014 nanti semua bahasa daerah di Sulut telah terdokumentasi," ujarnya
Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Bambang Wibawarta memberikan apresiasi yang besar pada langkah yang telah dilakukan ISBSU. Menurutnya, kearifan lokal seperti bahasa akan tetap berada pada daerah tersebut jika tidak diperkenalkan pada daerah lain.
"Jika warga didaerah lain membaca dan mempelajari kearifan lokal dari daerah lain maka akan muncul dialog kebudayaan. Hal ini bisa semakin menumbuhkan kebersamaan antara semua warga Indonesia," ujarnya.