Breaking News
Sabtu, 13 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

kenaikan BBM

BBM naik, ke Mana Rupiah akan Bergerak?

RAPBN-P 2012, pemerintah hanya mengajukan opsi tunggal penghematan anggaran subsidi BBM

Tayang:
zoom-inlihat foto BBM naik, ke Mana Rupiah akan Bergerak?
TRIBUNMANADO / BUDISUSILO

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali marak terdengar sejak akhir tahun lalu. Alasan pemerintah untuk melakukan opsi ini karena terdesak anggaran subsidi yang membengkak. Ditambah lagi dengan faktor eksternal di mana harga minyak dunia yang kian menanjak dalam beberapa bulan belakangan. Alhasil, beban yang harus ditanggung pemerintah semakin besar.

Terkait hal itu, dalam RAPBN-P 2012, pemerintah hanya mengajukan opsi tunggal penghematan anggaran subsidi BBM, yakni mengerek harga premium dan solar sebesar Rp 1.500 per liter mulai 1 April mendatang. Seperti biasa, kenaikan BBM akan merembet ke harga pangan dan produk lainnya. Secara otomatis, hal tersebut juga turut mendongkrak laju inflasi. Pemerintah sendiri berencana mengubah target inflasi tahun ini menjadi 6%-7% dari semula 4,5% plus minus 1%.

Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk (BDMN) Anton Gunawan berpendapat, tingkat inflasi tahun ini akan naik tinggi. “Kami memperkirakan akhir tahun inflasi akan berada di luar range BI, yakni hampir 7,9%,” jelasnya. Sementara, analis Bank Rakyat Indonesia (BRI) Putu Andi Wijaya menghitung, inflasi akan mencapai 6,8% di akhir tahun.

Sedangkan Lana Soelistianingsih, ekonom Samuel Sekuritas, memprediksi, kenaikan harga BBM bisa mendorong inflasi hingga kisaran 7%-7,5% year on year. Namun, Lana yakin inflasi akan kembali ke kisaran 6% usai Lebaran. Sampai akhir tahun, Lana memperkirakan inflasi akan berada di kisaran 6,5% yoy.

Tertekan dalam jangka pendek

Seberapa besar kenaikan inflasi pasca kenaikan BBM secara langsung akan mempengaruhi pergerakan rupiah. Sejumlah analis menilai, untuk jangka pendek, tingkat inflasi yang tinggi akan memukul rupiah.

Pengamat Pasar Modal, Jimmy Dimas Wahyu, meramal, pasca BBM dinaikkan, rupiah akan melemah untuk jangka pendek. "Saya memperkirakan hal ini berdasarkan sejarah kenaikan BBM di Indonesia pada 2005 dan 2008 lalu," imbuhnya. Dia memprediksi, pelemahan rupiah untuk jangka pendek akan berada di kisaran Rp 8.800-Rp 9.400.

Andi juga sependapat dengan Jimmy. Menurut dia, rupiah akan tertekan untuk jangka pendek di kisaran Rp 9.100-Rp 9.200. "Namun, pelemahan rupiah tidak akan berlangsung lama. Sebab, secara fundamental kondisi perekonomian Indonesia masih sangat baik," jelas Andi. Dia bilang, pasca kenaikan BBM per 1 April mendatang, BI akan mempelajari dulu bagaimana perkembangan inflasi tanah air.

Baik Jimmy dan Andi berpendapat, Bank Indonesia akan selalu menjaga pergerakan rupiah sehingga tidak keok terlalu dalam. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk menjaga rupiah adalah melalui kebijakan suku bunga acuan atau BI rate.

Jimmy menjelaskan, jika BI rate dinaikkan, tentu dengan harapan bisa menekan laju inflasi. Nantinya, hal ini akan berdampak pada minimnya jumlah mata uang rupiah yang beredar di masyarakat sehingga mendorong penguatan mata uang Garuda. "Kondisi ini juga berlaku sebaliknya, di mana, jika BI rate diturunkan, tingkat konsumsi akan meningkat sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat cukup tinggi. Ujung-ujungnya, rupiah akan melemah," papar Jimmy.

Andi memprediksi, BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, setidaknya di paruh pertama 2012 ini. Pasalnya, BI saat ini fokus mendorong pertumbuhan ekonomi lewat sektor riil. Kenaikan BI rate dikhawatirkan menjadi sentimen negatif bagi sektor riil. Penyesuaian BI rate kemungkinan baru terjadi di semester II tahun ini. “BI bisa saja melakukan penyesuaian suku bunga, tapi tentunya mereka akan melihat kondisi pasar dulu,” imbuh Andi.

Anton punya pendapat sendiri. Dia menilai, alih-alih menahan suku bunga, BI akan menaikkan suku bunga acuan jika BI ingin konsisten untuk menjaga inflasi sesuai target yang ditetapkan. “Besaran kenaikan BI rate antara 25 bps – 50 bps bergantung pada dampak inflasi yang terlihat pasca pemberlakuan kenaikan harga BBM subsidi April mendatang. Jadi, momen menaikkan (BI rate) kemungkinan terjadi pada Mei setelah kita melihat tingkat inflasi seperti apa,” lanjutnya.

Pengamat ekonomi, Tony Prasetiantono juga memiliki pendapat berbeda. Menurut Tony, tren penurunan BI rate yang cepat akhir tahun lalu menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah beberapa hari terakhir. BI rate berada di level 6,5% pada Oktober, dan menjadi 6% pada November.

"Inflasi rendah, BI rate turun. Tapi mereka lupa kalau ke depan inflasi akan naik. Padahal, BI rate ikut menyangga modal asing, daya tarik investasi asing. Dengan penurunan itu, lem kita kurang kuat jadinya bagi investor," kata Tony, Rabu (14/3).

Tony juga bilang, dengan target inflasi maksimal akhir tahun 7%, posisi BI rate saat ini di 5,75% terlalu kecil. Level ini tepat diterapkan ketika inflasi di kisaran 3,65%. "Kalau kuartal kedua inflasi naik lagi. Apalagi dengan BBM akan naik. Rupiah masih sulit menguat. Belum ada sentimen yang membuat rupiah menguat. Tapi ada harapan Eropa membaik," kata Tony.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved