Cuaca
Ini lho Proses Terjadinya Puting Beliung Versi BMKG
Kasus bencana alam puting beliung di lokasi pemukiman warga Wangurer Barat dan Girian Indah pengaruh dari kurangnya rindangan pohon.
Laporan Wartawan Tribun Manado Budi Susilo
TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Bencana alam datang tak memandang golongan, ras, jenis kelamin, suku apalagi agama. Kehadiran bencana pun tentu tidak diharapkan, namun apa daya bila sudah terjadi malapetaka menjadi bulan-bulanan duka kehidupan.
Hal inilah yang dialami warga Bitung di Kelurahan Girian Indah dan Wangurer Barat diterjang angin puting beliung, Minggu (16/10/2011) lalu.
Ketika itu, embusan angin puting beliung yang terjadi di daerah Wangurer Barat dan Girian Indah akibat dari peralihan musim kemarau ke musim penghujan.
Menurut Kepala Stasiun Badan Meteorologi Kilimatologi dan Geofisika Satsiun Meteorologi Maritim Bitung, Indar Adi Waluyo, terjadinya angin puting beliung tidak dapat diprediksi secara spesifik.
"Bitung diramalkan sedang masa transisi dari kemarau ke musim hujan. Biasanya akibatkan adanya puting beliung," ujarnya kepada Tribun Manado di ruang kerjanya, Senin (17/10/2011).
Menurutnya, timbulnya angin puting beliung berawal dari radiasi panas matahari yang memantul ke permukaan bumi, akibatnya ada tekanan angin dari atas ke lapisan tanah dan terpantul kembali ke atas jadilah angin puting beliung.
"Pengangkatan masa udara ke atas timbulkan turbulen atau angin puting beliung. Pergerakan ini tidak terdeteksi di citra satelit," katanya.
Kasus bencana alam puting beliung di lokasi pemukiman warga Wangurer Barat dan Girian Indah pengaruh dari kurangnya rindangan pohon. Daerah dataran tinggi ini, ujar Indar sudah berubah menjadi lokasi pemukiman padat penduduk.
"Dulu jarang ada rumah. Masih ada banyak pohon jadi belum kelihatan ada korban rumah rubuh," ujar pria yang pernah bertugas 11 tahun di Papua ini.
Pasca tiupan angin, pengamatan Tribun Manado di lokasi kejadian, Senin (17/10/2011), terdapat beberapa warga membereskan puing-puing rumahnya yang rubuh akibat tiupan angin.
Satu di antaranya, Lamrin Adam, rumahnya yang sedang proses pembangunan ambruk. Padahal dinding temboknya yang berbahan batako sudah tinggi tiga meter, namun apa daya tiupan angin kencang tak membuat dinding batakonya bertahan berdiri.
"Untung kami keluarga tidak didalam rumah. Sedang keluar rumah, kejadian tiupan angin siang hari di jam 12 siang," ungkap pria kelahiran tahun 1963 ini.
Melihat kondisi yang ada, Lamrin pun akan tetap membenahinya dan melanjutkan proses pembangunan. Pengamatan Tribun Manado, pria berkumis ini berupaya menata dan memungut beberapa batako yang masih berkondisi bagus. "Pekan depan saya mau kembali lanjutkan pembangunan," tutur Lamrin.
Senada, Sarianti Abas (11), menuturkan, akan tetap tinggal di Wangurer Barat walau kondisi rumah kediamannya hancur, atap seng terbang ditiup angin.
"Waktu kejadian selamatkan diri keluar rumah. Lari perlindungan ke sempak-semak rumput," ujarnya mengulangi pengalamannya saat itu.
Ketika ditemui, Lurah Girian Indah Yus Langgori, menuturkan, pemerintah memberikan santunan bantaun sembako ke warga korban bencana puting beliung. "Berikan beras, mie instan dan ikan kaleng," urainya.
Bantuan diberikan bagi korban 22 bangunan rumah yang rusak. Dari total keseluruhan ini ada 7 yang rusak berat dan warga yang rumahnya hancur parah sementara bertinggal di sanak saudaranya.
"Di lokasi sudah ada posko PMI untuk menampung bantuan dari donatur luar," ungkapnya.