Citizen Journalism
Tempat Wisata Makassar Terkelola Baik
ACARA supervisor Gathering Hotel Aston Manado kali ini berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan.
Makassar, Sulawesi Selatan.
ACARA supervisor Gathering Hotel Aston Manado kali ini berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan. Kami menginap di Beril Nur Hotel tentu saja selama acara yang terjadwalkan tanggal 5-7 Agustus 2011.
Kegiatan di hari pertama adalah wisata kuliner, ke tempat souvenir. Hari kedua jalan-jalan ke tempat wisata modern yaitu Trans Studio Makassar lalu ke Air Terjun Bantimurong.
Hal yang menarik karena kami memakai turis guide asli orang Makassar. Sebenarnya Manado dan Makassar satu pulau tetapi begitu banyak tempat wisata di daerah ini sehingga memang jasa pemandu sangat diperlukan.
Kami juga diingatkan untuk berpakaian sopan karena mayoritas di deerah ini kaum muslim. Apalagi masa bulan cuci Ramadhan. Kami pun sadar lain lubuk lain ikannya artinya lain daerah maka lain juga cara hidup masyarakatnya, budayanya dan cara berpakaiannya.
Warga disini sudah lebih modern. Terasa saat perjalanan ke Pantai Losari dan Trans Studio. Warga terbiasa tersenyum dan proaktif menawarkan jualan souvenir mereka.
Nah, untuk tempat wisata sepertinya Manado memang harus belajar dari Makassar. Terutama dalam cara pengelolaan tempat wisata. Saya melihat pemerintah benar-benar sinergi dengan investor (swasta) sehingga sarana dan prasarana di semua tempat wisata itu bersih dan nyaman. Contoh kecil keberadaan toilet pengunjung. Disemua tempat wisata ternama ada toilet dengan petugas kebersihan khusus sehingga orang-orang yang mencari hiburan rasanya mendapat kesan baik bukan buruk karena 'jorok'nya toilet. Itu contoh saja.
Untuk tempat wisata yang patut ditiru Manado adalah Trans Studio. Lengkap wahana hiburan untuk semua usia dan jika Manado ingin menjadi kota Ekowisata atau menjadi daerah pusat wisata-belanja Indonesia Timur maka patut dipersiapkan SDM berkualitas untuk mengelola tempat wisata.
Adapun jika Trans Studio jadi dibuka di Kota Manado, menurut saya sebaiknya harga tiketnya harus terjangkau supaya bisa digapai semua kalangan.
Untuk hari ini Minggu (7/8) pagi saya dan peserta lainnya berkunjung Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang). Lokasi wisata yang satu ini adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar.
Saya sangat salut melihat keberadaan barang-barang bersejarah yang diletakkan di Benteng ini. Ada banyak sejarah Makassar bisa dipelajari dari peninggalan-peninggalan purbakala yang ada di sini. Pantas saja menurut turis guide saya, kalau jalan-jalan ke Makassar tanpa berkunjung ke Fort Rotterdam sama saja dengan belum pernah ke Makassar.
Adapun biaya tiket masuk ke benteng ini rp 20 ribu per orang. Harga yang sebanding dengan pemandangan dan pengetahuan sejarah yang akan kita peroleh.
Khusus wisata kuliner di sini terkenal dengan es palubutung, es pisang ijo, pisang epe, Mie titi dan sup kepala ikan. Adapun acara ini diikuti 9 orang dari setiap departement yang ada di Hotel Aston Manado.