Ini Tanggapan Pengamat Politik Sulut Ferry Liando Tentang Reuni 212

Pengamat politik Unsrat Ferry Liando mengatakan ada perbedaan karakteristik pemilih pada pemilihan calon legislatif (Pileg)

Ini Tanggapan Pengamat Politik Sulut Ferry Liando Tentang Reuni 212
Istimewa
Ferry Liando 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pengamat politik Unsrat Ferry Liando mengatakan ada perbedaan karakteristik pemilih pada pemilihan calon legislatif (Pileg) dengan pemilih pada pemilihan Presiden (Pilpres).

Kalau Pileg, karakteristik pemilih cenderung akan dipengaruhi faktor politik uang, sementara pemilih pada Pilpres cenderung pada faktor primordial.

"Dari aspek teroritis terdapat 4 karakteristik pemilih. pertama, karakteristik pemilih politis. Sikap politik pemilih sangat tergantung pada kualitas, kemauan, integritas calon. Pemilih ini cenderung rasional. Memilih berdasarkan keyakinan dan objektivitas tanpa peduli dengan latar belakang sosialnya," katanya.

Kedua, karakter pemilih sosiologis. Sikap politik pemilih ini sangat kuat dipengaruhi oleh kedekatan emosional. Kedekatan itu bisa karena kesamaan etnik, kesamaan suku, kesmaan wilayah, kesamaan agama/keyakinan. Ini yang disebut dengan politik identitas. Pemilih ini tidak peduli dengan kualitas dan kemampuan calon. Dia memilih calon karena kesamaan identitas.

"Ketiga, karakter pemilih pragmatis. Jenis pemilih ini dipengaruhi oleh pemberian calon. Nama lainnya adalah pemilih sembako. Tanpa itu, dia tidak akan memilih. Dia tidak peduli dengan kualitas atau identitas calon," katanya.

Ia mengatakan yang keempat, karakter pemilih apatis. Meski telah terdaftar sebagai pemilih, jenis pemilih ini enggan untuk menggunakan hak pilihnya.

Baca: Peserta Reuni 212 Meninggal, Sempat Kembali Menuju Parkiran dan Berpamitan Akan Pulang

Baca: Penantian Panjang Warga Stateless Menjadi WNI, Gemetar Ketemu Menteri, Bisa Urus KTP dan Ikut Pemilu

Baca: Reuni 212 Kalah dari Poco-poco Jokowi, Guntur Romli: Bawaslu Harus Tindak

"Hal ini disebabkan karena pemilih ini mengalami trauma politik masa lalu karena perilaku politisi yang selalu mengingkari janji, atau karena pemilih ini sibuk dengan aktivitas pekerjaan atau bisnis, atau juga kehidupan sandang Pangan dan papan sudah terpenuhi," katanya.

Ia mengatakan banyak orang kaya raya tidak peduli dan tidak memilih lagi. Di tahun 2018 menurutnya kekuatan pemilih terbangun pada tiga karakteristik yakni pemilih nasionalis berhadapan dengan pemilih non-nasionalis.

"Inilah yang kemudian dibaca oleh masing-masing pasangan calon dan tim suksesnya. Proses politik ini sebetulnya merupakan hal yang wajar sepanjang perbedaan politik itu tidak dikait-kaitkan pada persoalan agama. Pilpres itu bukan hanya sekedar memilih aktor, tetapi juga menilih sikap atau rencana kebijakan yang melekat pada aktor tertentu," katanya

Ia mengatakan perang primordial sepertinya tidak akan menonjol di Sulut. Itu dapat dicegah oleh persebaran caleg di masing-masing parpol pendukung Pilpres.

Ia mengatakan demo 212 kemarin tentu sangat berpengaruh. Namun pengaruhnya bukan hanya pada kubu Prabowo.

"Menyaksikan massa yang diklaim sebagai pendukung Prabowo kemarin maka akan mendorong kubu jokowi untuk mengatur strategi baru," ujarnya.

Penulis: David_Manewus
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved