Respons Sari Roti Terhadap Denda dari KPPU

Produsen Sari Roti itu dihukum KPPU untuk membayar denda Rp 2,8 miliar karena telat memberikan pemberitahuan akuisisi PT Prima Top Boga.

Respons Sari Roti Terhadap Denda dari KPPU
kompas.com
Respons Sari Roti Terhadap Denda dari KPPU 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Produsen Sari Roti itu dihukum KPPU untuk membayar denda Rp 2,8 miliar karena telat memberikan pemberitahuan akuisisi PT Prima Top Boga.

PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) masih melakukan koordinasi terkait hukuman dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha ( KPPU).

"Saya periksa ke tim terkait dulu, ya" sebut External Communications Head Nippon Stephen Orlando seperti dikutip dari Kontan.co.id, Selasa (27/11/2018).

Baca: Lihat Bocoran Kisi-kisi dari BKN, Lolos Passing Grade SKD atau Masuk Ranking Bisa Ikut SKB CPNS 2018

Setali tiga uang, Kuasa Hukum Nippon Haykel Widiasmoko dari Kantor Hukum Nusantara Harman & Partners yang hadir dalam sidang putusan juga menyatakan hal tersebut.

"Tentunya akan kita laporkan dulu ke klien, selanjutnya akan tentu akan dipertimbangkan apakah akan mengajukan keberatan atau tidak," katanya usai sidang, Senin (26/11/2018).

SARI ROTI
SARI ROTI (IST)

Nippon dinilai bersalah oleh KPPU lantaran telat melaporkan aksi korporasinya mengakusisi PT Prima Top Boga. Sebagaimana yang ditentukan pasal 29 UU 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang menyatakan bahwa notifikasi paling lambat dalam 30 hari setelah akuisisi terjadi.

Baca: Angka Ekspor Timah Anjlok Terkait Penambangan Tanpa Izin

Secara yuridis, pengambilalihan Prima oleh Nippon terjadi pada 9 Februari 2018 yang ditandai adanya perubahan data perseroan di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemkumham. Nah sayangnya, Nippon baru melaporkan aksinya ke KPPU pada 29 Maret 2018.

Terkait hal ini, Haykel bilang sejatinya sejak persidangan Nippon telah membantah acuan yuridis tersebut. Sebab, sebagai perusahaan penanaman modal asing (PMA), Haykel bilang secara yuridis akusisi baru efektif ketika Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merestuinya.

"Karena klien ini PMA, dan kami baru mendapat putusan efektif dari BKPM pada 1 Maret 2018. Sehingga sebelum itu sebenarnya akuisisi belum efektif. Dan kalau dihitung dari pelaporan kami, pada 29 Maret 2018, itu masih masuk jangka waktu 30 hari pelaporan ke KPPU," jelasnya.

Baca: Terungkap Alasan Reino Barack Putuskan Luna Maya, Bukan Harta?

Sayangnya, dalil ini ditolak Majelis Komisi. Anggota Majelis Guntur Syahputra Saragih dalam sidang menyatakan efektivitas akuisisi berlaku sejak berubahnya data perseroan di Kemkumham.

"Majelis menilai kewenangan BKPM tidak terkait pengambilalihan saham melainkan teknis mengenai tata cara perizinan dan fasilitas penanaman modal PMA. Sementaraproses pengambilalihan saham berdasarkan Kemkumham. Berdasarkan hal tersebut, Majelis menilai terdapat keterlambatan selama 4 hari," papar Guntur saat membacakan amar putusan.

Sementara sejatinya transaksi Nippon dengan Prima terjadi pada 24 Januari 2018. Nippon menggelontorkan dana senilai Rp 31,49 miliar untuk mengempit 50,99 persen kepemilikan saham Prima.

Baca: Jokowi Akan Dorong Memperbanyak Agen Transformasi Tahun Depan

Pun atas transaksi ini, Prima akan menambah nilai aset Nippon sebesar Rp 23,54 miliar sehingga gabungan aset keduanya akan menjadi Rp 3,41 triliun di mana sebelumnya aset Nippon senilai Rp 3,39 triliun.

Dan penambahan nilai penjualan senilai Rp 20,31 miliar, sehingga gabungan keduanya akan menjadi Rp 2,51 triliun yang tadinya penjualan Nippon senilai Rp 2,49 triliun.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Didenda KPPU, Ini Respons Sari Roti", 

Editor: Hans Koswara Widjaya
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved