Peneliti Sebut Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet Akan Bikin Suara Prabowo-Sandi Tergerus

Blunder politik yang dilakukan Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terkait kasus hoaks pengroyokan Ratna Sarumpaet

Peneliti Sebut Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet Akan Bikin Suara Prabowo-Sandi Tergerus
Tribunnews.com/Vincentius Jystha
Aktivis perempuan Ratna Sarumpaet diperiksa di Polda Metro Jaya, Kamis (4/10/2018) malam 

TRIBUNMANADO.CO.ID -- Blunder politik yang dilakukan Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terkait kasus hoaks pengroyokan Ratna Sarumpaet membuat persepsi publik pada pasangan nomor urut 02 menjadi tidak cukup baik.

Menurut Ketua Pusat Studi Politik & Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran Bandung, Muradi, hal itu berkaitan dengan berita bohong yang terviral dan disampaikan oleh sebagian elit politik dari pasangan Prabowo-Sandi.

Baca: Tim Perancis Deteksi Ada Korban Gempa Palu yang Masih Hidup di Reruntutan Hotel

Termasuk juga kata dia, Prabowo dan Sandiaga yang bersama elit politik lainnya hingga melakukan konferensi pers dan mengecam aksi pengroyokan tersebut yang ternyata hoaks.

"Kecerobohan dalam politik bisa saja menjadi hal yang biasa. Namun jika berkali-kali dilakukan dan nampak kesulitan untuk mengklarifikasi dan cenderung menyalahkan lawan politik hanya akan membuat posisi dan penerimaaan publik makin negatif," ujar Muradi kepada Tribunnews.com, Jumat (5/10/2018).

Hal inilah, menurut dia, diyakini akan membuat posisi Prabowo-Sandiaga tidak cukup kompetitif dalam mengarungi Pilpres 2019 mendatang.

Lebih lanjut ia menyebut ada tiga penegas mengapa potensi elektabilitas Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019 akan tergerus.

Baca: 5 Warga Korban Gempa di Petobo Palu Ditemukan Masih Hidup Setelah 6 Hari Tertimbun Reruntuhan

Pertama, ia mengatakan, respon bersifat reaksioner atas sejumlah fenomena dan klaim ‘play victim’ dari elit politik yang tidak melalui mekanisme kros cek atas informasi Yang diserap mengakibatkan informasi tersebut menjadi diragukan kebenarannya dan mengarah ke informasi bohong.

Kedua, kemampuan untuk mengelola isu dan program yang ditampilkan tidak dalam posisi yang tepat. 
Menurut dia, hal ini mengarah kepada kemungkinan memanfaatkan isu yang diragukan kebenarannya. 
Dan kasus hoaks Ratna Sarumpaet, ia melihat, bagian dari puncak atas kecerobohan yang terus menerus dilakukan selama ini.

Dan yang ketiga adalah penegasan asal beda dari calon lain mengakibatkan posisi dari masing-masing pasangan calon berada pada perbedaan pijakan politik.

"Pembelahan ini pada akhirnya menguatkan perbedaan diantara keduanya, sehingga apapun hal yang dianggap bisa men-downgrade masing-masing calon dengan segala potensi yang ada," jelasnya.

Baca: Dua Tentara Berjaga di Setiap Toko di Palu, Ekonomi Mulai Menggeliat Kembali

Sementara itu, Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria meyakini, kasus informasi bohong atau hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet tak akan memengaruhi elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Menurut saya tidak berbanding lurus kasus Ratna Sarumpaet dengan elektabilitas pasangan Prabowo-Sandiaga. Kita tahu Prabowo-Sandi, kita bisa lihat track record dan latar belakang,” ujar Riza saat ditemui di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Jumat, (5/10/2018).

Riza mengatakan, kasus berita bohong tersebut bisa memberikan hikmah yang penting bagi pihaknya serta bangsa Indonesia.

“Jadi kasus ini mengambil hikmah besar bagi kami dan warga negara Indonesia harus memahami dan mengerti, bahwa pak Prabowo bersimpati, orang yang baik, orang yang sportif, dan berjiwa besar mau meminta maaf,” tutur Riza.

Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved