Kasus Rumah Pak Eko Tak Punya Akses Jalan: Komunikasi Buntu, Kehidupan Bertetangga pun Runyam
Sebuah rumah di Kampung Sukagalih, Desa Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, menjadi pembicaraan hangat.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebuah rumah di Kampung Sukagalih, Desa Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, menjadi pembicaraan hangat.
Pasalnya, rumah Eko Purnomo tidak memiliki akses jalan karena terhalang tembok tetangganya
Bahkan dikabarkan Eko sudah tidak meninggali rumah yang dibelinya pada 2008 tersebut sejak 2016.
Muncul berbagai pertanyaan mengenai kasus tersebut. Salah satunya tentang bagaimana tetangga-tetangga Eko bisa 'tega' mengurung Rumah Pak Eko sehingga tidak memiliki akses jalan?
Tak sedikit yang menduga bahwa Eko memang tidak memiliki hubungan yang baik dengan para tetangganya.
Baca: Pria Ini Culik, Perkosa, dan Bunuh 8 Ratu Kecantikan Hanya dalam 6 Minggu
Salah seorang yang menduga ada permasalahan pribadi antara Eko dan tetangganya tersebut sehingga membuat permasalahan nenjadi rumit adalah Pelaksana tugas Wali Kota Bandung, Oded M Danial.
“Sepertinya ada masalah antara pemilik rumah dan tetangganya. Nanti camat dan lurah komunikasi di sana untuk mencari solusi,” tandas Oded seperti dilansir dari kompas.com.
Apalagi, jika merujuk pada pengakuan Ketua RW di Kampung Sukagalih, Suhendi.
Suhendi menyatakan bahwa dirinya sudah beberapa kali memediasi pertemuan antara Eko dan para tetangga pemilik tanah di sekitar Rumah Pak Eko untuk mencari jalan keluar.
Baca: Pekerja di 6 Negara ini Punya Waktu Istirahat Terpanjang di Dunia
Jika memang terdapat masalah dalam hubungan Eko dengan para tetangganya tersebut, maka ada baiknya masalah tersebutlah yang diselesaikan terlebih dahulu.
Ya, hidup bertetangga memang gampang-gampang susah. Apalagi kalau komunikasi sudah buntu, bertetangga pun bisa makin runyam.
Pribahasa Rusia mengatakan “don't buy the house, buy the neighborhood”. Ungkapan itu menunjukkan betapa pentingnya hidup kebersamaan dalam bertetangga.
Jangan salah, sebab temuan dari penelitian yang dimuat di Proceedings of the Nation Academy of Sicence (PNAS) tahun 2014 mengatakan, bertetangga dengan siapa dan bagaimana lingkungan kita, sangat kuat pengaruhnya terhadap kebahagian.
Baca: Rusia dan China Gelar Latihan Perang Terbesar, Diikuti 300.000 Tentara dan 36.000 Kendaraan Militer
Kehidupan bertetangga mencakup 2/3 dari faktor kenapa seseorang merasa bahagia.
Masalahnya, tak tak semua orang dalam komunitas bertetangga bisa menerima segala perbedaan atau kekurangan tetangganya sendiri.
Apalagi di zaman sekarang, yang interaksi dengan tetangga terbilang minim karena satu dan lain hal.