MTPJ 28 Januari 3 Februari 2018
RENUNGAN: Ini Aku, Utuslah Aku
Pemimpin dan kepemimpinan sebenarnya berbicara ten-tang pengaruh dan ini tidak tergantung pada jabatan atau posisi tertentu yang kita miliki.
TEMA BULANAN : “Berkarya dalam Penantian”
TEMA MINGGUAN : “Ini Aku, Utuslah Aku”
Bacaan Alkitab : Yesaya 6:1-13
ALASAN PEMILIHAN TEMA
PEMIMPIN dan kepemimpinan sebenarnya berbicara ten-tang pengaruh dan ini tidak tergantung pada jabatan atau posisi tertentu yang kita miliki. Kepemimpinan adalah tentang bagai-mana kita mempengaruhi seseorang untuk alasan yang ber-manfaat dan menjadi lebih baik untuk mencapaitujuan tertentu; dalam bahasa rohaninya, baik yang memimpin maupun yang dipimpin hidupnya “menjadi seperti yang Tuhan ingini”. Selama ini kita telah banyak berdebat dan membicarakan tentang pe-mimpin dan kepemimpinan.

Misalnya, apakah seorang pemimpin dilahirkan sebagai pemimpin atau mereka dibentuk untuk men-jadi pemimpin? Memang benar, ada orang yang dilahirkan seba-gai pemimpin, tetapi tidak menampakkan kepemimpinannya.
Dan ada beberapa orang di antara para pemimpin besar dalam Alkitab dan dunia sekuler yang dianggap tidak memiliki kemam-puan atau kelihatan biasa saja, tetapi setelah melalui proses pemberian diri dalam tuntunan Tuhan, diperlengkapi dan mem-perlengkapi diri, akhirnya mereka menjadi pemimpin efektif dalam menjalankan kepemimpinannya. Tema “Ini aku, utuslah aku” merupakan panggilan Yesaya dalam Yesaya 6:1-13 yang dapat menolong setiap orang untuk dapat memahami dan melakukan tugas sesuai dengan panggilan yang dikehendaki Tuhan.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Yesaya anak Amos, melayani di Yerusalem pada masa pemerintahan empat raja Yehuda: Uzia, Yotam, Ahas, dan Hiskia (1:1). Penglihatan yang dialami oleh Yesaya dimulai dengan penyataan dua hal yang berbeda, yaitu matinya raja Uzia dan Tuhan menyatakan diri kepada Yesaya
Panggilan Yesaya sesudah matinya raja Uzia, diawali dengan penglihatan tentang kemuliaan Allah yang duduk di atas takhta dan dikelilingi oleh para Serafim. Pemanggilan Yesaya memiliki keunikan tersendiri karena dalam bentuk visi (peng-lihatan) di Bait suci. Pemanggilan Yesaya sendiri dalam konteks ketika orang Israel berada dalam “kekacauan” baik secara sosial politik dan spiritual.
Mereka sedang berada dalam keterpurukan karena sibuk berperang dengan bangsa seperti Asyur dan Babel. Juga mereka menjauh dari Tuhan dengan menyembah ilah lain, dan kondisi ini membuat Allah marah kepada mereka (band Yesaya 1:1-4). Dalam proses pemanggilan ini, Allah di damping oleh para malaikat seraphim (secara harafiah seraphim adalah Malaikat yang menyala) sehubungan dengan kemuliaan yang mereka miliki di samping Allah.
Mereka memiliki 6 sayap yang terdiri dari dua sayap di pakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap di pakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap untuk melayang-layang. Alas ambang pintu Bait Suci yang bergoyang menunjukkan bahwa kemuliaan TUHAN dimanifestasikan dalam bentuk fisik dan rumah yang dipenuhi dengan asap menun-jukkan kehadiran-Nya dalam Bait-Nya yang suci (bd. Keluaran 13:21; 14:19; 40:34; I Raja 8:10; Yesaya 4:5). Ini berarti bahwa kemuliaan TUHAN bukanlah sesuatu yang semu, tetapi nyata dan dapat dirasakan oleh umat-Nya sebagai lawatan-Nya terhadap umat-Nya di seluruh bumi.
Melihat situasi ini, Yesaya menjadi takut karena menyadari dirinya pasti celaka karena melihat Allah. Karena pemahaman pada waktu itu, siapa yang melihat Allah pasti mati (band Kel. 33:20). Dan dia menyadari,sebabnya karena ia adalah orang berdosa. Ia menyadari keadaan dirinya, mengakui kenajisan bibirnya (ay.5) berkata:“ Celaka aku,aku dibinasakan, sebab aku orang najis bibir dan hidup di tengah bangsa yang najis bibir (sesuatu yang kotor, yang menjadi sebab terhalangnya untuk ada di hadapan Allah, tidak pantas berbicara mewakili Tuhan).
Tetapi Tuhan mengampuni Yesaya dengan mengambil sebuah bara dari mezbah dan menyentuhkannya ke dalam mulutnya sebagai tanda pengampunan( ay. 6-7). Ketika hidup Yesaya di pulihkan,maka muncullah pertanyaan dari Allah, ”Siapakah yang akan Ku utus dan Siapakah yang mau Pergi untuk Aku? Yesaya tidak berdalih,tidak meminta penjelasan mengenai panggilan ini,tidak tawar menawar seperti yang di lakukan oleh Musa atau nabi Yeremia, tapi dia spontan menjawab panggilan Allah.
Ia tahu bahwa Allah sementara memperperleng-kapi hidupnya.“Ini Aku Utuslah Aku“(ay 8) Panggilan yang ia terima datang dari arah yang tidak terbayangkan olehnya. Di dalamnya ia mengalami pembebasan untuk ikut seta dalam sesuatu yang lebih luas yang telah Tuhan rancangkan. Di dalam jawabannya, Yesaya menemukan kekuatan yang mengalahkan segenap rasa takut dan rendah diri, ia menyadari dosanya telah di ampuni,dan Allahlah yang menyatakan ini baginya.
Karena itu ia maju dengan Iman, yakin akan pemanggilan Allah yang di nyatakan kepadanya dalam penglihatan serta menunjukkan kesediaanya yang berasal dari kesungguhan hati, juga kese-tiaannya dengan segala konsekwensi. Betapa berat baginya untuk menyampaikan kepada bangsanya sendiri berita yang berisi hukuman. Mereka tidak mau mendengar bahkan makin menge-raskan hati (ayt 9). Dalam ayat 10 ini menunjuk pada akibat yang pasti akan terjadi pada hari kemudian terhadap berita hukuman yang disampaikan.
Penolakan mereka terhadap seruan nabi Yesaya, berita yang harus disampaikan itu cukup mengejutkan dan mengesankan bagi Yesaya, sehingga ia bertanya berapa lamakah berlangsung kekerasan hati yang mendatangkan hukuman? Jawaban Tuhan yakni hukuman itu bersifat menye-luruh, kota-kota menjadi sunyi, rumah-rumah menjadi kosong, penghuninya dibawa ke tempat pembuangan, tanahnya dirusak oleh musuh, menginjak-injak dan menjarahnya.
Yang ada hanyalah perkabungan di seluruh negeri itu. Di negeri itu mungkin masih ada sisa kecil, yaitu sepersepuluh bagian yang sementara masih belum terkena hukuman. Akan tetapi, pada waktunya akan mendapatkan hukumannya juga. Dengan demikian mereka itu digambarkan seperti “tunggul” yang masih berdiri setelah batang pohonnya ditebang. Tunggul yang tertinggal itu akan keluar tunas yang kudus.