Senin, 11 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tribun Manado Travel

Pesona Selimut Kabut di Gunung Ambang

GUNUNG Ambang tak hanya cantik ketika berada di bawah cahaya matahari dan terangnya langit biru

Tayang:
Penulis: Finneke | Editor:
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Gunung Ambang 

Laporan wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID -   GUNUNG Ambang tak hanya cantik ketika berada di bawah cahaya matahari dan terangnya langit biru. Gunung yang mempunyai ketinggian 1.689 meter di atas permukaan laut yang berlokasi di Tanah Bogani ini memberi sensasi berbeda ketika sedang diselimuti kabut.

Sejak pagi, hujan enggan menjauh dari atas langit Desa Bongkudai Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Hawa dingin pegunungan desa di dekat Danau Moaat ini menusuk hingga ke tulang.

Di balik pekatnya kabut pagi hingga siang itu, samar‑sama terlihat kawasan Leher Unta, lokasi di mana menjadi tempat favorit penjelalah Gunung Ambang yang terletak di Bolaang Mongondow Timur dan Bolaang Mongondow ini.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 13.00. Langit yang masih berwarna abu‑abu nyaris memupuskan tekad untuk menjamah gunung yang dikata orang ini eksotis. Rinai yang tak kunjung menjadi deras, membulatkan kembali tekad yang sempat redup. Perjalanan dimulai pukul 13.30.

Dari Desa Bongkudai Baru ini, Leher Unta serasa sangat dekat. Sudah sangat terlihat, meski ditutupi kabut. Perjalanan pun dimulai, mengarah ke perkebunan hortikuktura warga.

Desa ini dan desa sekitar memang dikenal dengan kawasan hortikultura. Berada dekat dengan gunung vulkanis, membuat kawasan Danau Moaat hingga ke Modoinding, Minahasa Selatan, ini bertanah subur.

Jalur pendakian ini masih landai. Kendaraan roda dua pun sebenarnya bisa melewati jalur ini. Pakai motor dan memarkir kendaraan di kebun warga. Kondisi jalan rusak, penuh dengan bebatuan.

Menit‑menit pertama pendakian, masih dengan medan yang landai. Sekitar 30 sampai pertama, jalur masih mudah untuk dijajaki. Terus menyusuri, hingga tiba di jalur tanjakan yang curam, sekitar 60‑70 derajat.

Medan lumayan menguras tenaga. Apalagi saat itu hujan. Jalanan licin. Para pendaki beberapa kali harus tergelincir. Tanjakan ini memakan waktu sekitar 45 menit, sebab lumayan curam.

Terus mendaki, pendaki akan menemui jalur tanjakan yang mudah. Tak banyak tanjakan. Ini tanda bahwa Leher Unta sudah semakin dekat. Hingga menemui kawasan kano‑kano, pertanda perjalanan hampir sampai.

Usai melewati kano‑kano yang membentuk terowongan ini, kawasan bebatuan putih kekuning‑kuningan yang berbau belerang mulai terlihat. Capainya pendakian selama dua jam, terbayar dengan pemandangan eksotis puncak Leher Unta.

Waktu kala itu menunjukkan sekitar pukul 16.30. Hujan tak lagi turun. Namun kabut tak mau beranjak juga. Tak ada langit cerah tak semata‑mata menghilangkan pesona Gunung Ambang sore itu.

Bebatuan yang membentuk bukit samar‑sama terlihat di balik kabut. Tak lama setelah tiba, cahaya matahari tiba‑tiba menyembul. Pemandangan puncak Leher Unta yang sesungguhnya terlihat. Membentuk seperti lembah, dengan bebatuan putih kekuning‑kuningan, menghias pepohonan yang memberi warna hijau. Tak heran, Leher Unta ini menjadi tempat favorit di gunung ini.

Matahari tak mau berlama‑lama. Kabut seperti berjalan. Pemandangan kawasan Leher Unta yang bercampur dengan kabut membuat pemandangan di lokasi ini semakin eksotis. Bak sedang berada di dunia lain.

Leher Unta punya kecantikan lain ketika sedang cerah, namun saat diselimuti kabut, ia punya pesonanya sendiri. Jika ingin bermalam, ada kawasan camp di Gunung Ambang ini. Jika hanya sehari jelajah, tak juga masalah sebab pendakian Gunung Ambang ini terbilang mudah dan tak memakan waktu lama.(

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved