»
Tajuk Tamu
Sulut Peringkat Empat Pengidap HIV/AIDS di Indonesia
Tribun Manado - Selasa, 17 April 2012 09:31 WITA
Oleh: Ventje Jacob
(Diektur Pusat Pengkajian Sosial dan Demokrasi)
“Ketua KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Sulawesi Utara, Dr. Tangel mengatakan bahwa jumlah pengidap HIV/AIDS di Sulut posisi Januari 2012 sudah menyentuh angka 979 orang dan secara Nasional Provinsi Sulut berada pada peringkat ke-empat. Capaian angka tersebut diatas amat sangat kontradiksi dengan daerah kita yang dikenal dengan istilah daerah yang sangat Agamais/Religius.
Jumlah pengidap HIV/AIDS yang nampaknya setiap tahun terus bertambah, sering mengundang tanya; “Apakah Pemerintah dan para tokoh Agama kita sangat tidak peduli dengan penyakit yang sangat mematikan ini?”. Padahal disisi lain sejak tahun 2007 Pemerintah Sulawesi Utara sudah mengeluarkan Peraturan Daerah Penanggulangan HIV/AIDS (Perda no. 1 tahun 2007).
Angka kenaikan HIV/AIDS di Sulawesi Utara yang capaiannya 979 kasus itu sendiri tidak menggambarkan kasus yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi hanya sebagai kecil dari kasus yang ada di masyarakat.
Faktor Penyebab;
Seperti diketahui di Sulawesi Utara penyebaran HIV/AIDS masih didominasi oleh 2 faktor, yakni; “Narkoba Suntik” dan “Heteroseks”, karena Narkoba Suntik sudah menjadi trend anak muda serta menjadi bahan bisnis yang menggiurkan. Sedangkan Heteroseks lebih diakibatkan banyaknya tumbuh tempat-tempat hiburan yang juga menjadi tempat transaksi bisnis seks dan bisnis narkoba.
Disisi lain life style, ketidaksetiaan dalam keluarga serta tingkat perselingkuhan dan traficking di Sulut yang cukup tinggi merupakan penyebab utama penularan HIV/AIDS. Pada tahun 2008 triwulan-II penulis sempat melakukan survey tentang tingkat perceraian di Sulawesi Utara, dan hasilnya adalah dalam triwulan terdapat 654 kasus perceraian yang dilakukan oleh dua lembaga, yakni; Pengadilan Umum dan Kantor Urusan Agama, artinya bahwa rata-rata dalam satu hari terjadi perceraian 3 s/d 4 pasangan bercerai. Pada tahun 2012 ini perceraian setiap hari turun menjadi 1 s/d 2 pasang bercerai.
Penyebab perceraian adalah; 1. Ketidak setiaan, 2. Faktor ekonomi, 3. Pengaruh budaya global (mudah diakses liwat sarana telekomunikasi).
Faktor Kegagalan;
Perda no. 1 tahun 2007 sangat tidak efektif dan kurang diseriusi untuk diberlakukan, yang akhirnya masyarakat tidak memahami cara-cara mencegah penularan HIV/AIDS tersebut, akibatnya banyak yang tertular HIV/AIDS tanpa mereka sadari akibat buruk yang akan mereka alami dikemudian hari. Contoh kongkrit pasal 13 ayat 1 dan 3;
Ayat 1 : mewajibkan pimpinan lembaga pemerintah dan swasta, setiap pengusaha untuk
melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja.
Ayat 3 : Penanggung jawab lokasi berisiko terhadap penularan IMS dan HIV–AIDS, berkewajiban untuk membantu upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS.
Jelas bahwa Perda ini boleh dikata tidak efektif, karena angka kasus HIV/AIDS di Sulut setiap hari terus bertambah jumlahnya. Kondisi ini kian lebih parah lagi karena laki-laki di Manado enggan memakai kondom pada saat berhubungan seks dengan pasangan lain secara bergantian.
Kegagalan penanganan kasus HIV/AIDS di Sulawesi Utara, juga lebih diakibatkan cara pandang (paradigma) kita terhadap HIV/AIDS itu sendiri serta pendekatan program pencegahan yang tidak memiliki formulasi yang baik. Pemerintah dan lembaga keagamaan terkesan hanya sebatas memberikan statemen liwat media, tapi kurang terjun langsung ke tempat-tempat yang rentan terjadi penularan.
Cara pencegahan (solusi);
Kasus HIV dan AIDS di Sulut hendaknya terus dideteksi sekaligus memberikan pencerahan kepada masyarakat, agar masyarakatpun termotivasi dan terdorong memikirkan upaya untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS ini. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), institusi keagamaan diharapkan turut bekerjasama dengan pemerintah untuk menyelamatan generasi muda kita. Berikut ini beberapa cara/solusi menghindari HIV/AIDS;
~ Berperilaku hidup sehat dan bertanggung jawab meningkatkan ketahanan keluarga untuk mencegah penularan HIV.
~ Tingkatkan Ibadah kita kepada Tuhan berdasarkan ajaran Agama yang kita yakini.
~ Tidak diskriminatif terhadap ODHA.
~ Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi ODHA dan keluarganya.
~ Berpartisipasi aktif dalam pencegahan dan penanggulangan HIV – AIDS.
~ Terlibat dalam penyuluhan, pelatihan, VCT, pengobatan, perawatan dan dukung-an, serta pengembangan pusat informasi HIV - AIDS dilingkungannya
~ Penjangkauan dan Pendampingan Populasi
~ Bangun Pusat Layanan Klinik
~ Kampanyekan bahaya HIV-AIDS, sekaligus penggunaan kondom melalui dialog Interaktif di TV & Radio, Tulisan Artikel di Koran, Pembuatan spanduk, brosur2 untuk dibagikan dijalan-jalan atau tempat umum.
~ Peran serta Lembaga keagamaan dalam mengsosialisasikan tentang dampak negative HIV/AIDS serta prilaku menyimpang lainnya.
~ Membentuk kelompok masyarakat peduli AIDS.
~ Bangun lokalisasi bagi WPS (Wanita Pekerja Seks).
~ Bangun lokasi pusat rehabilitasi ODHA.
Penulis : Andrew_Pattymahu
Editor : Andrew_Pattymahu