»
Tajuk Tamu
Jembatan Soekarno Tak Marhaenisme ?
Tribun Manado - Kamis, 8 September 2011 13:39 WITA
Penulis: Tan Kelana aktivis Jongfajar
SEKIAN
lama, mereka orang Sulawesi Utara yang merantau keluar dari daerah Kota
Manado mungkin akan merasa kaget berdecak kagum. Sebuah kota kecil
dibangun infrastruktur jembatan sepanjang sekitar 2.5 Km yang melintang
di dua wilayah Manado Utara dan Manado Selatan.
Aku sendiri pun
yang telah berdiam di Manado hampir satu tahun lebih timbul kebanggan
tersendiri, kota yang berhadapan dengan lautan pasifik akan menuju
ambang kemajuan. Dibangun jembatan untuk permudah arus lalu lintas
transportasi darat. Terlihat megah, modern dan tersistem, sebuah
penataan kota yang apik.
Jembatan yang diberi nama penyebutan
Soekarno itu hampir menelan biaya di angka Rp 200 milyar agar mampu
mengurangi penumpukan kendaraan, warga yang dari daerah Tuminting dan
Molas tidak perlu lagi ke pusat kota. Sebaliknya, ada warga yang berada
di Tuminting mau menuju Kawasan Boulevard tidak perlu lagi melewati
Pusat Kota.
Maklumlah Kota Manado yang masuk geografis peta
Sulawesi Utara jadi target pemerataan pembangunan nasional. Baru-baru
ini wilayah Indonesia Timur dalam hal ini Sulawesi Utara masuk lingkup
koridor IV, sebagai kawasan yang dipercepat pembangunan ekonominya.
Awal
proses pembangunan jembatan Soekarno terasa menelan pil pahit. Sebab
kenapa, proyek pembangunan itu karena dikejar target penyelesaian,
membuat jalan arus lalu lintas disekitar daerah Marina, Tuminting dan
Molas, warga diharuskan berhati-hati saat melaju kendaraan bermotor,
jika tidak resiko celaka akan dihadapi, ditambah jalanan berdebu serta
panas terik matahari menjadikan atmosfir di kawasan tersebut semakin
penat.
Buat ku itu tak apalah, mengambil pengibaratan kalimat
bijak, berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian. Semoga kelar
penggarapan, jembatan jadi roda penggerak kehidupan perekonomian warga
Manado dan sekitarnya.
Fakta belakangan, jembatan itu yang
segera rampung penggarapan, kini timbul ironi sosial. Kegagahan jembatan
itu ternyata akan menelan korban ekonomi masyarakat lapisan terbawah.
Rasanya jembatan itu rugi bila keberadaannya hanya semakin membuat kuat
para orang kaya, yang kaya jadi lebih kaya. Sedangkan mereka yang miskin
tetap terpuruk meratapi ganasnya roda pembangunan yang tak
berkesinambungan.
Cobalah baca di pemberitaan tribunmanado.
co.id, Kamis (8/9/2011), ada nelayan merasa terampas lahan rezekinya
karena pengerjaan jembatan Soekarno. Nelayan pesisir yang di kelurahan
Maasing kecamatan Tuminting timbul kekhawatiran kehilangan mata
pencaharian akibat tempat tambat perahu mereka terancam tergusur proyek
jembatan Soekarno.
Kejadian ini tentu tak sesuai dengan sosok
Soekarno yang pro rakyat, melindungi nasib wong cilik, mengajarkan sikap
Marhenisme. Keberadaan jembatan hanya dinikmati orang kaya,
memperlancar kegiatan arus barang bisnisnya, sementara mereka nelayan
rakyat kecil hanya gigit jari memandangi dan tak menikmati kemegahan
jembatan.
Bila hal ini masih menguap di permukaan maka tidak
heran jembatan Soekarno ke depan akan dianggap tak Marhenis. Sekalian
semua masih ingatkan, ajaran Bung Karno saat era revolusi kemerdekaan
Republik Indonesia, mengajak seluruh bangsa untuk terus-menerus
menggerakkan dan mengkobarkan revolusi dan melawan segala macam
pemerasan dan penindasan terhadap rakyat oleh segala kekuatan reaksioner
dalam negeri maupun luar negeri.
Curhatan nelayan di media
kabar elektronik lokal yang kehilangan tambatan perahu akibat proyek
jembatan tersebut, tentu menimbulkan rasa sesak, belasungkawa bagi warga
sekalian. Ini mengingatkan memori ku kembali saat ada ramai-ramai
pengurangan subdisi Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh pemerintah. Meski beda
konteks dengan nelayan itu, tetapi dalam kasus ini menggambarkan pola
yang sama yaitu orang kaya tetap kokoh, mereka yang berada di garis
miskin semakin anjlok kemiskinannya.
Walau kehilangan subsidi
BBM, orang kaya masih mampu kuasai dengan menaikkan aneka tarif barang
dan jasa untuk tutupi pengeluaran akibat kenaikan harga. Sementara orang
miskin, golongan buruh, nelayan dan petani tak punya daya tawar seperti
itu. Sungguh memprihatinkan bukan.
Harusnya pemerintah sebagai
pengatur daerah, renungkan kembali. Pemerintah harus mengambil peran
melindungi warganya secara meluas tanpa pandangbulu. Mengambil pendapat
Yusuf Qadhawi, dalam Fiqih Daulah (1997) negara dalam hal ini pemerintah
berfungsi menjamin kebutuhan minimum rakyat, mendidik, membina dan
menyediakan fasilitas infrastruktur, institusi secara berkualitas agar
maksimal dan memberikan manfaat masyarakat.
Pemerintah sebagai
pemangku kebijakan serta pemberi regulasi pengadaan infrastruktur,
dalami kembali ruh perwujudan jongosrakyat. Sebagai penyelanggara
pemerintahan hilangkan rasa feodalisme, yang selalu ingin dilayani.
Jalankan prinsip egliter dalam keputusan kebijakan, berikan keadilan
demi mengukuhkan rasa kemandirian warga masyarakat sejahterah dan sehat
sentosa. Semoga hal ini terwujud agar eksistensi Republik ini selamat.
Salam pergerakan untuk perubahan.
Penulis : Budi_Susilo
Editor : Andrew_Pattymahu