Rabu, 2 September 2015

Jembatan Soekarno Tak Marhaenisme ?

Kamis, 8 September 2011 13:39

Jembatan Soekarno Tak Marhaenisme ?
TRIBUNMANADO/BUDI SUSILO

Aku sendiri pun yang telah berdiam di Manado hampir satu tahun lebih timbul kebanggan tersendiri, kota yang berhadapan dengan lautan pasifik akan menuju ambang kemajuan. Dibangun jembatan untuk permudah arus lalu lintas transportasi darat. Terlihat megah, modern dan tersistem, sebuah penataan kota yang apik.

Jembatan yang diberi nama penyebutan Soekarno itu hampir menelan biaya di angka Rp 200 milyar agar mampu mengurangi penumpukan kendaraan, warga yang dari daerah Tuminting dan Molas tidak perlu lagi ke pusat kota. Sebaliknya, ada warga yang berada di Tuminting mau menuju Kawasan Boulevard tidak perlu lagi melewati Pusat Kota.

Maklumlah Kota Manado yang masuk geografis peta Sulawesi Utara jadi target pemerataan pembangunan nasional. Baru-baru ini wilayah Indonesia Timur dalam hal ini Sulawesi Utara masuk lingkup koridor IV, sebagai kawasan yang dipercepat pembangunan ekonominya.

Awal proses pembangunan jembatan Soekarno terasa menelan pil pahit. Sebab kenapa, proyek pembangunan itu karena dikejar target penyelesaian, membuat jalan arus lalu lintas disekitar daerah Marina, Tuminting dan Molas, warga diharuskan berhati-hati saat melaju kendaraan bermotor, jika tidak resiko celaka akan dihadapi, ditambah jalanan berdebu serta panas terik matahari menjadikan atmosfir di kawasan tersebut semakin penat.

Buat ku itu tak apalah, mengambil pengibaratan kalimat bijak, berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian. Semoga kelar penggarapan, jembatan jadi roda penggerak kehidupan perekonomian warga Manado dan sekitarnya.

Fakta belakangan, jembatan itu yang segera rampung penggarapan, kini timbul ironi sosial. Kegagahan jembatan itu ternyata akan menelan korban ekonomi masyarakat lapisan terbawah. Rasanya jembatan itu rugi bila keberadaannya hanya semakin membuat kuat para orang kaya, yang kaya jadi lebih kaya. Sedangkan mereka yang miskin tetap terpuruk meratapi ganasnya roda pembangunan yang tak berkesinambungan. 

Cobalah baca di pemberitaan tribunmanado. co.id, Kamis (8/9/2011), ada nelayan merasa terampas lahan rezekinya karena pengerjaan jembatan Soekarno. Nelayan pesisir yang di kelurahan Maasing kecamatan Tuminting timbul kekhawatiran kehilangan mata pencaharian akibat tempat tambat perahu mereka terancam tergusur proyek jembatan Soekarno.

Halaman12
Editor: Andrew_Pattymahu
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas