Berita Tomohon
Seorang Pedagang Diusir Satpam dari Kampus UKIT Tomohon, Alumnus: Melukai Rasa Kemanusiaan
Alumnus UKIT Supriyadi Pangellu menyayangkan tindakan oknum satpam menguris seorang ibu yang berjualan di area Kampus UKIT Tomohon, Sulut.
Penulis: Petrick Imanuel Sasauw | Editor: Frandi Piring
Ringkasan Berita:
- Seorang ibu yang berjualan di area Kampus UKIT, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, diusir satpam.
- Kejadian ini telah viral di media sosial.
- Alumnus UKIT Supriyadi Pangellu menyayangkan tindakan oknum satuan pengamanan (satpam) itu.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Alumni Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Supriyadi Pangellu, menyayangkan tindakan oknum satuan pengamanan (satpam) yang diduga melakukan pengusiran terhadap seorang ibu yang berjualan di area Kampus UKIT, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
Kepada Tribun Manado, Kamis (5/2/2026) malam, Supriyadi menilai peristiwa tersebut seharusnya tidak terjadi.
Terlebih UKIT dikenal sebagai lembaga pendidikan milik Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang melahirkan calon-calon pendeta dan pemimpin gereja.
“Sangat menyesalkan. Kejadian seperti ini tidak pantas terjadi di lingkungan pendidikan gereja, tempat lahirnya calon pemimpin dan pendeta GMIM,” ujar Supriyadi via WhatsApp.
Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UKIT itu juga menyoroti sikap oknum satpam yang dinilainya tidak mencerminkan nilai kasih sebagaimana diajarkan dalam gereja, apalagi tindakan tersebut dipertontonkan kepada mahasiswa teologi.
Menurutnya, video pengusiran yang beredar seharusnya mendapat perhatian serius dari seluruh warga GMIM, mengingat kampus UKIT merupakan milik gereja.
“Kampus itu milik GMIM. Gereja selalu mengajarkan tentang kasih. Kalau ini dilakukan atas instruksi pimpinan, patut dipertanyakan apakah pimpinan di UKIT mengajarkan untuk tidak mengedepankan kasih, bahkan kepada seorang ibu yang mencari nafkah,” tuturnya.
Supriyadi juga menyinggung kondisi ibu pedagang tersebut yang sudah lanjut usia dan menggantungkan hidup dari berjualan gorengan.
Ia menyebut, ibu tersebut telah berjualan di lingkungan kampus selama kurang lebih 23 tahun.
“Itu bukan waktu yang singkat. Mengusir dan bahkan merampas dagangan hanya karena alasan instruksi pimpinan sangat melukai rasa kemanusiaan,” sambungnya.
Atas peristiwa tersebut, Supriyadi meminta Rektor UKIT, Sandra Korua, untuk memberikan perhatian khusus dan mengambil sikap tegas.
Ia menegaskan, sebagai pemimpin lembaga pendidikan milik gereja, rektor harus menunjukkan keberpihakan pada nilai-nilai kasih yang diajarkan GMIM.
“Rektor harus bertindak dan bersikap. Bila perlu, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada ibu yang bersangkutan dan kepada warga GMIM,” tandasnya.
Sang Ibu Sudah 23 Tahun Berjualan
Sebelumnya, seorang ibu penjual gorengan diduga tidak diperbolehkan berjualan di area Kampus Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Sulawesi Utara, Kamis (5/2/2026).
Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik setelah video siaran langsung sang ibu beredar dan viral di media sosial Facebook.
| Caroll Senduk Sah Nahkodai KONI Kota Tomohon, Ini Pesan Ketum Jerry Waleleng |
|
|---|
| Wali Kota Tomohon Lantik Pengurus LP3KD Kota Tomohon 2025-2030 |
|
|---|
| Strategi Menentukan Wakil Wali Kota: Kunci Kemenangan di Pilkada Tomohon Sulawesi Utara |
|
|---|
| Wali Kota Tomohon Bersama Istri Kunjungi IKN Nusantara dalam Rakernas Apeksi 2024 |
|
|---|
| Hadir di Syukuran HUT ke-2 Jemaat GMIM Winalian Walian Satu Tomohon, Caroll Senduk Sampaikan Ini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Alumnus-UKIT-Supriyadi-Pangellu-menyayangkan-satpam-usir-ibu-berjualan-di-kampus-UKIT.jpg)