Dampak Dollar Menguat
Dolar Menanjak, Daya Beli Tertekan, Prof Jozef Raco: Sulut Diminta Bertumpu pada Ekspor
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk di Sulawesi Utara.
Penulis: Petrick Imanuel Sasauw | Editor: Chintya Rantung
Ringkasan Berita:
- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk di Sulawesi Utara
- Guru Besar Universitas Katolik De La Salle Manado, Prof. Dr. Jozef Richard Raco, mengatakan dampak kenaikan dolar kini tidak hanya menjadi persoalan ekonomi makro, tetapi sudah menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat
- Ia menilai solusi menghadapi tekanan rupiah harus diimbangi penguatan sektor riil dan peningkatan ekspor daerah
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk di Sulawesi Utara.
Guru Besar Universitas Katolik De La Salle Manado, Prof. Dr. Jozef Richard Raco, mengatakan dampak kenaikan dolar kini tidak hanya menjadi persoalan ekonomi makro, tetapi sudah menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Hal itu disampaikannya kepada Tribun Manado, Rabu (10/6/2026).
Menurut Raco, pelemahan rupiah yang sempat menembus level Rp18 ribu per dolar AS bahkan menyentuh kisaran Rp 18.190 menunjukkan adanya tekanan serius terhadap perekonomian nasional.
“Situasi ini bukan lagi sekadar fluktuasi biasa. Bahkan Bank Indonesia sampai mengambil langkah langka dengan menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal reguler demi menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak pertama yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga barang.
Sulawesi Utara, kata dia, masih sangat bergantung pada pasokan barang dari luar daerah maupun luar negeri.
Ketika dolar naik, biaya impor ikut meningkat dan berimbas pada harga jual di pasaran.
“Mulai dari bahan pangan, pupuk, pestisida, pakan ternak, sampai bahan tambahan makanan banyak yang masih bergantung pada impor,” katanya.
Tak hanya sektor pangan, sektor konstruksi dan properti juga dinilai akan terdampak.
Harga material seperti besi, baja, aluminium, kabel listrik, hingga mesin konstruksi diperkirakan mengalami kenaikan dalam beberapa bulan ke depan karena banyak menggunakan komponen impor.
Selain itu, sektor transportasi dan logistik juga berpotensi mengalami tekanan.
Indonesia yang masih menjadi net importer minyak akan menghadapi kenaikan biaya pengadaan BBM ketika harga minyak dunia dan dolar naik secara bersamaan.
“Efeknya akan berantai. Ongkos transportasi naik, biaya distribusi naik, dan harga barang di pasar ikut terdorong naik,” jelasnya.
| Harga Terbaru Rica Rp120 Ribu Per Kilogram di Pasar Bersehati Manado, Warga Terpaksa Kurangi Jumlah |
|
|---|
| Saat Warga Pilih Makan di Rumah Saja, UMKM Kuliner di Manado Merana, Buah dari Naiknya Harga Bapok |
|
|---|
| Daftar Harga BBM Pertamax Terbaru se-Indonesia Rabu 10 Juni 2026, Sulut Naik Rp 4 Ribu |
|
|---|
| Akibat Rupiah Melemah Atas Dolar: Harga HP di Manado Sulawesi Utara Ikutan Naik Sampai Rp 500 Ribu |
|
|---|
| Efek Dollar AS Menguat, Harga Smartphone di Kota Manado Sulut Naik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/TANGGAPAN-Guru-Besar-Universitas-Katolik-De-La-Salle-Manado-Pljkjkl.jpg)