Museum Daerah Sulut
Wajah Baru Museum Daerah Sulut: Lebih Modern, Ramah Turis, dan Dilengkapi Fasilitas Digital
Museum Daerah Sulawesi Utara kini tampil kian menawan. Pasca-rehabilitasi, destinasi wisata sejarah ini bertransformasi jadi modern.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Museum Daerah Sulawesi Utara (Sulut) kini tampil kian menawan.
- Pasca-rehabilitasi, destinasi wisata sejarah ini bertransformasi menjadi lebih modern, indah, dan nyaman.
- Perubahan ini pun kian memikat hati masyarakat hingga mereka berbondong-bondong datang berkunjung.
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO — Museum Daerah Sulawesi Utara (Sulut) kini tampil kian menawan.
Pasca-rehabilitasi, destinasi wisata sejarah ini bertransformasi menjadi lebih modern, indah, dan nyaman.
Perubahan ini pun kian memikat hati masyarakat hingga mereka berbondong-bondong datang berkunjung.
Tak ketinggalan, para turis asing dari berbagai negara seperti Korea Selatan, Swiss, dan Prancis turut memadati museum ini.
Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut, museum ini kini beroperasi setiap hari kecuali pada hari libur nasional atau tanggal merah.
Untuk jadwal operasionalnya, Senin sampai Jumat dibuka mulai pukul 09.00 - 16.00 Wita.
Sementara pada hari Sabtu, pengunjung bisa datang pukul 10.00 - 15.00 Wita.
Khusus untuk hari Minggu, museum dibuka dalam waktu terbatas, yakni hanya dua jam pada pukul 13.00 - 15.00 Wita.
Suasana ramai langsung terasa saat memantau situasi di lokasi pada Kamis (4/6/2026) siang.
Antrean pengunjung tampak mengalir, bahkan beberapa mahasiswi dan wisatawan lain terlihat datang bersamaan.
"Di dalam masih banyak pengunjung," kata seorang penjaga Museum.
Saat melangkah ke dalam didampingi seorang pemandu (guide), atmosfer yang disuguhkan benar-benar berbeda jauh dari beberapa tahun lalu.
Jika dulu ruangannya cenderung pengap, gelap, dan panas, kini ruangan museum terasa sejuk dan modern berkat tata lampu yang estetik serta kehadiran fasilitas digital.
Begitu melewati pintu masuk, hawa dingin pendingin ruangan langsung menyambut kulit, menghalau terik matahari Manado.
Pengunjung akan langsung disapa oleh daya tarik utama di lantai dasar: awetan ikan purba Coelacanth yang ditempatkan di dalam wadah kaca menyerupai akuarium.
Di bagian bawahnya, terdapat kertas dengan kode QR atau barcode.
"Nanti akan terpampang segala informasi tersebut melalui barcode," katanya.
Perjalanan sejarah kemudian berlanjut ke area religi.
Di salah satu ruangan, dipajang Alkitab tua yang sudah lapuk dan robek di bagian luarnya, lengkap dengan mimbar serta alat perjamuan.
Alkitab legendaris ini merupakan saksi bisu yang digunakan para misionaris saat membawa Injil ke tanah Minahasa.
Tak jauh dari situ, terdapat juga batu tulis yang dulunya dipakai oleh misionaris Belanda untuk mengajar.
Bagi pencinta barang antik, museum ini menyimpan koleksi keramik Cina.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah sebuah mangkok besar peninggalan Dinasti Song, disusul dengan berbagai barang antik peninggalan Dinasti Ming.
Ada pula deretan senjata masa kolonial, mulai dari meriam hingga lantaka.
Secara keseluruhan, bangunan museum ini terdiri dari empat lantai yang merangkum sekitar 1.800 barang bersejarah.
Jika ingin menyusuri seluruh koleksi yang seolah membawa kita melintasi lorong waktu ini, pengunjung membutuhkan waktu sekitar 45 menit.
Kejutan sejarah terbesar menanti di lantai empat, tempat disimpannya peninggalan para pejuang kemerdekaan.
Di sana, terdapat sebuah meja bundar yang dikelilingi lima kursi.
Meja ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi karena menjadi tempat para pejuang peristiwa 14 Februari menyusun strategi rahasia untuk merebut Tangsi Belanda di Teling, Manado—sebuah momen penting yang menjadi embrio dari Peristiwa Merah Putih.
Sayangnya, demi menjaga kelestariannya, meja bersejarah ini dan beberapa barang lainnya dilarang untuk difoto.
Hingga sore hari, antusiasme masyarakat seolah tidak ada habisnya.
Saat melangkah keluar museum, antrean pengunjung yang ingin masuk masih terlihat mengular.
Sementara itu di area halaman, para pengunjung yang telah selesai berkunjung tampak asyik berswafoto (selfie) dengan latar belakang taman depan museum yang tertata indah dan asri.
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Baca berita lainnya di: Google News
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini
| Kian Ramai, Ini Jawal Daftar Kunjungan di Museum Daerah Sulut, Hari Minggu Buka |
|
|---|
| Isi Museum Daerah Sulut yang Baru Diresmikan, Mulai Alkitab Pengijil Belanda Hingga Keramik Cina |
|
|---|
| Gubernur YSK: 90 Persen Data Sejarah Daerah Sudah Terdokumentasi di Museum Nasional Sulut |
|
|---|
| Peresmian Museum Nasional Sulut, Gubernur Yulius: Anak-anak Wajib Kenal Sejarah Daerah |
|
|---|
| Tiba di Museum Daerah Sulut, Fadli Zon Disambut Pesta Budaya, Dipasangi Topi Adat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/MUSEUM-DAERAH-SULUT-Museum-Daerah-Sulawesi-Utara-Sulut-kini-tampil-kian-menawanKI90.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.