Jumat, 5 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

It Center Manado

Jeritan Hati Karyawan IT Center Manado: Tuhan Tidak Tidur

Pemandangan tidak biasa tersaji di pusat grosir dan teknologi terkemuka, IT Center, yang terletak di Jalan Pierre Tendean, Manado, Sulut.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Rizali Posumah
Tribun Manado/Arthur_Rompis
IT CENTER - Pemandangan tidak biasa tersaji di pusat grosir dan teknologi terkemuka, IT Center, yang terletak di Jalan Pierre Tendean, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Selasa (2/6/2026) pagi. Gerbang utama tempat perbelanjaan yang biasanya ramai itu tampak tertutup rapat dan dipasangi baliho besar bertuliskan "Ditutup". 
Ringkasan Berita:
  • Pemandangan tidak biasa tersaji di pusat grosir dan teknologi terkemuka, IT Center, yang terletak di Jalan Pierre Tendean, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Selasa (2/6/2026) pagi.
  • Gerbang utama tempat perbelanjaan yang biasanya ramai itu tampak tertutup rapat dan dipasangi baliho besar bertuliskan "Ditutup".
  • Penutupan yang sempat berlangsung dari pagi hingga siang hari ini sontak membuat warga dan pengguna jalan yang melintas merasa bingung.

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Pemandangan tidak biasa tersaji di pusat grosir dan teknologi terkemuka, IT Center, yang terletak di Jalan Pierre Tendean, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Selasa (2/6/2026) pagi.

Gerbang utama tempat perbelanjaan yang biasanya ramai itu tampak tertutup rapat dan dipasangi baliho besar bertuliskan "Ditutup".

Penutupan yang sempat berlangsung dari pagi hingga siang hari ini sontak membuat warga dan pengguna jalan yang melintas merasa bingung. 

Namun, rasa penasaran publik segera terjawab ketika area lobi depan gedung mulai dipadati oleh ratusan karyawan, staf, hingga manajemen IT Center.

Rupanya, mereka sedang menggelar aksi damai untuk memprotes tudingan pencemaran lingkungan yang dialamatkan kepada IT Center

Tudingan yang telah menetapkan seorang tersangka tersebut dinilai sebagai upaya kriminalisasi yang cacat hukum dan tanpa dasar yang jelas.

Sebagai langkah perlawanan, pihak IT Center pun kini tengah menempuh jalur praperadilan.

Suasana aksi yang semula riuh dengan yel-yel, nyanyian, dan orasi seketika berubah menjadi syahdu dan penuh haru saat doa bersama mulai dipanjatkan.

Sang pendoa melafalkan harapan dengan suara serak, menahan tetesan air mata yang juga tampak membasahi pipi sejumlah karyawan yang selama ini menggantungkan hidup di tempat tersebut.

Kekhawatiran para pekerja bukan tanpa alasan.

Gladys Kindangen selaku Finance Accounting Building Management IT Center mengungkapkan bahwa ada ribuan nasib yang kini sedang dipertaruhkan.

"Kami punya total 5000 pekerja dari management, tenant dan karyawan," katanya.

Gladys mengetuk hati semua pihak untuk turut mendukung perjuangan IT Center yang saat ini terancam ditutup.

Menurutnya, setiap karyawan kini selalu menyelipkan doa untuk tempat mereka mencari nafkah di setiap kesempatan.

"Kami berjuang dan kami yakin Tuhan akan menolong kami," kata dia.

Aksi penutupan operasional selama setengah hari ini ditegaskan sebagai bentuk protes keras sekaligus simulasi pahit jika tempat usaha mereka benar-benar dipaksa berhenti beroperasi.

Andre Rumatora, perwakilan HRD salah satu tenant, menyatakan bahwa tuduhan pencemaran limbah berbahaya tersebut sangat tidak masuk akal, bahkan awalnya ia mengira hal itu hanya sekadar lelucon.

"Karena di sini tidak produksi limbah yang berbahaya, hanya limbah rumah tangga, sama sekali bukan limbah berbahaya," katanya.

Lebih lanjut, Andre membeberkan sejumlah kejanggalan yang terkuak dalam fakta persidangan.

Salah satunya terkait sampel Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dijadikan rujukan.

"Ternyata adalah IPAl pembuangan air seluruh kota Manado, bukan keluar dari IT Center," katanya.

Tak hanya itu, wadah yang digunakan untuk mengambil sampel air limbah diketahui hanya menggunakan botol air mineral bekas, yang jelas-jelas menyalahi prosedur standar.

Proses penetapan tersangka yang terkesan terburu-buru juga menjadi tanda tanya besar bagi pihak manajemen.

"Padahal sesuai pengalaman kami, ini mustinya memakan waktu lama," kata dia.

Mengingat ada ribuan warga Manado yang mencari nafkah di sana, Andre meminta Pemerintah Kota Manado dan DPRD untuk turun tangan melindungi IT Center dari upaya kriminalisasi.

"Jika proses ini berlanjut dan It Center dinyatakan bersalah maka ini bisa tutup, lantas bagaimana kami menghidupi keluarga kami, lebih baik tutup sehari daripada tutup selamanya," katanya.

Aksi damai ini juga diwarnai dengan pembacaan kronologi kasus serta pembentangan sejumlah spanduk berisi kalimat protes, seperti "Penetapan tersangka cacat hukum" dan "Nasib ribuan pekerja ada di sini".

Menjelang akhir aksi, pihak manajemen membentangkan baliho putih besar sebagai wadah penggalangan tanda tangan dukungan.

Momen ini memicu simpati luar biasa, tidak hanya dari internal perusahaan tetapi juga dari warga pengguna jalan yang kebetulan melintas.

Mereka secara sukarela berhenti untuk membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk penolakan terhadap kriminalisasi IT Center.

Suasana emosional kembali terlihat saat proses penandatanganan.

Seorang wanita tampak menuliskan tanda tangannya dengan tangan yang gemetar menahan emosi. 

Sementara itu, di sudut lain baliho, seorang wanita menuliskan pesan, "Tuhan tidak tidur,"

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved