Senin, 18 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Rupiah Melemah

Rupiah Melemah, Ekonom Prof Joy Tulung: Antara Tekanan Global dan Risiko Ketahanan Fiskal

Ketua ISEI Cabang Manado, Sulut, Prof Joy TTulung SE MSc PhD memberikan analisisnya terkait pelemahan nilai tukar rupiah. 

Tayang:
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Chintya Rantung
Dok Pribadi
RUPIAH MELEMAH - Guru Besar Universitas Sam Ratulangi Manado Prof Joy Tulung. Ia memberikan analisisnya terkait pelemahan nilai tukar rupiah.  

Ringkasan Berita:
  • Melemahnya nilai tukar rupiah hingga mencapai kisaran Rp17.600 per dolar AS memunculkan kekhawatiran publik
  • Dosen Universitas Sam Ratulangi Prof Joy TTulung SE MSc PhD memberikan analisisnya terkait pelemahan nilai tukar rupiah
  • Ia menyebutkan pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa nilai tukar rupiah saat ini, melainkan mengapa rupiah melemah dan apakah pelemahan tersebut mencerminkan persoalan fundamental ekonomi Indonesia

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Melemahnya nilai tukar rupiah hingga mencapai kisaran Rp17.600 per dolar AS memunculkan kekhawatiran publik karena angka tersebut mendekati bahkan melampaui level psikologis yang pernah terjadi pada masa krisis. 

Guru Besar Universitas Sam Ratulangi Prof Joy TTulung SE MSc PhD memberikan analisisnya terkait pelemahan nilai tukar rupiah. 

Ketua ISEI Cabang Manado, Sulut ini menyebutkan pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa nilai tukar rupiah saat ini, melainkan mengapa rupiah melemah dan apakah pelemahan tersebut mencerminkan persoalan fundamental ekonomi Indonesia.

Ia menjelaskan, dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global. 

Penguatan dolar Amerika Serikat akibat kebijakan suku bunga tinggi The Federal Reserve, ketidakpastian geopolitik dunia, serta meningkatnya permintaan terhadap aset aman (safe haven) membuat arus modal keluar dari negara berkembang menuju AS. 

Kondisi ini diperparah oleh kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi. 

"Akibatnya, hampir seluruh mata uang negara berkembang mengalami tekanan, termasuk rupiah," kata Prof Joy kepada Tribunmanado.co.id, Senin 18 Mei 2026.

Dengan kata lain, pelemahan rupiah saat ini sebagian besar dipicu oleh faktor eksternal. 

Namun, menganggap seluruh tekanan kurs hanya berasal dari luar negeri juga kurang tepat. 

Pasar keuangan global tidak hanya melihat kondisi dunia, tetapi juga menilai kemampuan fiskal suatu negara dalam menjaga keberlanjutan ekonomi domestiknya.

Dalam konteks Indonesia, perhatian investor mulai tertuju pada besarnya komitmen pembiayaan berbagai program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan Koperasi Merah Putih, pembangunan IKN, subsidi energi, program perlindungan sosial, serta berbagai proyek prioritas nasional lainnya. 

Secara prinsip, belanja pemerintah bukan sesuatu yang negatif; bahkan dalam ekonomi modern, ekspansi fiskal sering diperlukan untuk mendorong pertumbuhan. 

"Persoalannya terletak pada satu hal: apakah belanja tersebut menghasilkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan?" katanya. 

Pasar biasanya tidak khawatir terhadap anggaran besar, tetapi khawatir terhadap efektivitas penggunaan anggaran. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved