Catatan Seorang Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Nyepi Ala Torang Samua Basudara di Manado
Guru salah satu SMA di Manado ini satu diantara seribuan peserta Sahur Akbar bersama yang digelar Pemuda Islam Miftahul Jannah.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Gryfid Talumedun
TAK MASALAH bagi Ni Made menjalankan ibadah Nyepi di tengah pemukiman di Manado yang penduduknya mayoritas Kristen dan terkadang suka pesta.
Saat Nyepi, ia bercerita, tetangganya seolah ikutan "Nyepi".
"Mereka menghargai kami dengan tidak berisik, tidak bunyikan musik keras - keras atau bunyikan klakson," katanya.
Wanita beragama Hindu ini lahir di Manado.
Sejak ia masih kecil hingga dewasa, suasana Nyepi di Manado tak berubah.
"Nyepi yang penuh - penuh toleransi," kata dia.
Pengalaman beda tapi mirip - mirip ditetap Grey.
Guru salah satu SMA di Manado ini satu diantara seribuan peserta Sahur Akbar bersama yang digelar Pemuda Islam Miftahul Jannah di Kelurahan Ternate Baru, Kecamatan Singkil, Kota Manado, Provinsi Sulut.
Makan dengan lesehan di atas daun pisang beralaskan terpal, Grey merasakan nikmat, bukan hanya dari ikan bakar serta sayur kangkung yang ia santap.
Grey merasakan suatu makanan rohani, sesuatu yang kerap ia rasakan sebagai orang Kristen dikunyahnya perintah Kristus untuk mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri dan itu memuaskan dahaganya yang terdalam.
"Ada nilai kekeluargaan dan penghormatan kepada saudara-saudara Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa," kata Grey.
Kekristenan adalah agama mayoritas di Manado dan Calvinisme merupakan aliran arus utama.
Misionaris dari Jerman dan Belanda - dua negara Calvinis - membawa Injil di tanah Minahasa, dimana Manado termasuk di dalamnya.
Penginjilan di Minahasa adalah kisah kemenangan total.
Sesuatu yang jarang terjadi, sebuah daerah di Injili dan tidak menyisakan sama sekali anasir adat yang bertentangan.
Bahkan orang Israel saja tak beroleh kontrol total atas Kanaan.
Tapi di Minahasa, kontrol itu terbilang total.
Injil masuk.
Alifuru keluar.
Tak bercampur. Memang Calvinisme di Minahasa tidak diterapkan secara murni dan konsekwen. Konsep fungsional serta etos kerja yang perfect tak benar-benar merasuki jiwa Minahasa.
Tapi saya percaya banyak nilai yang baik yang merupakan pengaruh Calvinisme di Minahasa.
Salah satunya adalah toleransi.
Toleransi adalah perkembangan modern dari Calvinisme.
Abraham Kuyper mengembangkan sistem Sphere Sovereignty yang artinya semua panggilan memiliki otoritasnya sendiri.
Prinsip ini menjadi dasar bagi pluralisme sosial, dimana negara bertindak sebagai wasit yang adil bagi berbagai kelompok masyarakat dengan keyakinan berbeda, alih-alih memaksakan satu ideologi tunggal.
Syukurlah pengaruh Calvinisme di Manado bukan mendorong suatu negara menjadi polisi dunia yang bebas menyerang bangsa lain.
Bukan sebuah hegemoni yang menolak LGBT, menolak aborsi, tapi membenarkan penindasan kepada negara lain.
Di Manado, ajaran Calvinisme telah menumbuhkan simfoni kedamaian. Itulah berkat Tuhan untuk kota ini. (Arthur Rompis)
-
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Baca berita lainnya di: Google News
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Potret-Ogoh-ogoh-di-Manado.jpg)