Unima Sulawesi Utara
Hearing DPRD Sulut Soal Kematian Evia Mangolo, Dua Srikandi Pertanyakan Kinerja PPTK Unima
DPRD Sulawesi Utara mempertanyakan kinerja Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Universitas Negeri Manado.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Alpen Martinus
Ringkasan Berita:1.DPRD Sulawesi Utara mempertanyakan kinerja Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Universitas Negeri Manado (Unima).2.Anggota Komisi II DPRD Sulawesi Utara, Jeane Laluyan mempertanyakan kinerja Satgas PPTK.3.Lanjutnya, dengan kematian Evia, menjadi cermin bahwa dunia perguruan tinggi di daerah ini perlu reformasi di dalam banyak bidang.
TRIBUNMANADO.CO.ID,SULUT - DPRD Sulawesi Utara mempertanyakan kinerja Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Universitas Negeri Manado (Unima).
Jarak antara Manado Ibu Kota Sulawesi Utara ke kampus Unima mencapai 34,8 kilometer atau ditempuh selama 1 jam 9 menit.
Keraguan muncul menyusul tragedi kematian mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima, Evia Maria Mangolo.
Baca juga: Oknum Dosen di Unima Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat Kini Dinonaktifkan, Ini Ancaman Sanksinya
Evia ditemukan meninggal di kosnya di Kelurahan Kaaten, Tomohon pada Selasa 30 Desember 2025.
Kematiannya diduga tidak wajar. Belakangan, Senin 12 Januari 2026, Polda Sulut menyatakan Evia mengakhiri hidupnya karena depreasi.
Anggota Komisi II DPRD Sulawesi Utara, Jeane Laluyan mempertanyakan kinerja Satgas PPTK.
Pasalnya, kata Srikandi PDIP, fakta berbicara penanganan aduan Evia yang jadi korban dugaanp pelecehan seksual oknum dosen berinisial DAM terkesan lambat.
"Korban melapor 19 Desember tapi tidak ada bentuk perlindungan terhadapnya. Seorang perempuan yang berani mengadu dalam posisi seperti dia tentu sudah dalam keadaan kritis," kata Laluyan saat rapat dengar pendapat bersama dengan Rektor Unima dan jajaran di ruang serbaguna, Selasa 13 Januari 2026.
Kata Laluyan, PPTK yang dulu PPTKS jangan hanya jadi pajangan di kampus.
"Apakah layanan konseling dan perlindungan itu benar-benar dijalankan?" katanya mempertanyakan.
Lanjutnya, dengan kematian Evia, menjadi cermin bahwa dunia perguruan tinggi di daerah ini perlu reformasi di dalam banyak bidang.
"Bagaimana bisa kampus yang jadi benteng akademik dan moral justru menjadi tempat yang tidak nyaman bagi mahasiswa karena ada oknum yang tidak bermoral. Bagamana bisa kampus yang jadi benteng akademik dan moral, justru sebaliknya," katanya lagi.
Laluyan mengatakan, sangat disesalkan akibat perbuatan oknum meruntuhkan bangunan integritas, moral dan pengabdian yang tulus dari Unima. "Kami harapannya ada perbaikan secara sistemik dalam pelayanan dan tatalaksana akademik dan kegiatan lainnya," katanya.
Keraguan senada juga datang dari Sekretaris Komisi III DPRD, Cindy Wurangian.
| Rektor Unima yang Baru Joseph Philip Kambey Tegaskan Komitmen Berantas Pungli di Kampus |
|
|---|
| Daftar 9 Nama Bakal Calon Rektor Unima Tahun 2025-2029, Ada Adik Ketua DPRD Provinsi Sulut |
|
|---|
| Digelar 23 Januari 2025, Berikut Tahapan Pemilihan Rektor Universitas Negeri Manado |
|
|---|
| Sempat Tertunda, Berikut Tahapan Pemilihan Kembali Rektor Unima Sulawesi Utara 2024 |
|
|---|
| Profil Prof Orbanus Naharia, Calon Rektor Unima Sulawesi Utara 2024, Siap Lanjutkan Mapalus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/DPRD-Sulut-sbfrthsrthr.jpg)