Rabu, 29 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sangihe Sulawesi Utara

Kekosongan Obat di RSUD Liun Kendage, Dinkes Sangihe Minta Masyarakat Bersabar

Isu kekosongan obat di RSUD Liun Kendage, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, kembali mencuat, khususnya bagi pasien rawat jalan.

Istimewa
Isu kekosongan obat di RSUD Liun Kendage kembali mencuat, khususnya bagi pasien rawat jalan. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, ME, memberikan penjelasan, Selasa (28/04/2026) 

Ringkasan Berita:
  • Isu kekosongan obat di RSUD Liun Kendage kembali mencuat, khususnya bagi pasien rawat jalan.
  • Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, ME, memberikan penjelasan, terkait kondisi yang terjadi serta langkah-langkah penanganan yang tengah dilakukan.
  • Menurut Handry, kekosongan obat yang terjadi saat ini tidak lepas dari proses penyesuaian sistem pengadaan sejak pergantian direktur rumah sakit.

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TAHUNA — Isu kekosongan obat di RSUD Liun Kendage, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, kembali mencuat, khususnya bagi pasien rawat jalan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, ME, memberikan penjelasan, terkait kondisi yang terjadi serta langkah-langkah penanganan yang tengah dilakukan.

Menurut Handry, kekosongan obat yang terjadi saat ini tidak lepas dari proses penyesuaian sistem pengadaan sejak pergantian direktur rumah sakit.

Ia mengungkapkan bahwa Direktur RSUD Liun Kendage yang baru, dr. Polideng Dalawir, telah beberapa kali melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan.

“Sejak pergantian direktur, kami sudah dua kali melakukan audiensi. Arahan kami jelas, agar segera melakukan proses pengadaan obat dan bahan medis untuk memenuhi kebutuhan pelayanan,” ujarnya, Selasa (28/04/2026).

Ia menjelaskan, sistem pengadaan obat kini menggunakan mekanisme katalog elektronik yang membutuhkan waktu lebih lama dibanding sistem sebelumnya melalui BLUD.

Jika sebelumnya pengadaan bisa dilakukan dalam waktu singkat, kini proses distribusi obat bisa memakan waktu mulai dari satu minggu hingga bahkan 1–3 bulan, tergantung lokasi distributor dan ketersediaan barang.

“Kalau distributor di Manado, mungkin satu minggu sudah bisa masuk. Tapi ada juga yang harus menunggu hingga 2 sampai 3 bulan. Ini menjadi tantangan di masa transisi, khususnya dalam enam bulan pertama,” jelasnya.

Meski demikian, ia memastikan bahwa proses pengadaan obat saat ini sudah berjalan.

Pihak rumah sakit juga diminta memprioritaskan pengadaan obat-obatan yang paling dibutuhkan oleh pasien.

Terkait penanganan pasien saat terjadi kekosongan obat, Handry menegaskan bahwa RSUD Liun Kendage telah bekerja sama dengan PT Kimia Farma sebagai apotek cadangan atau backup.

“Rumah sakit harus bisa mengantisipasi dengan memanfaatkan apotek cadangan. Jadi pasien tidak perlu lagi dibebankan mencari atau membeli obat di luar. Itu tidak sesuai standar pelayanan,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa pasien, khususnya peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tidak boleh dikenakan biaya tambahan akibat kekosongan obat.

“Prinsipnya tidak boleh ada biaya tambahan. Semua harus diantisipasi oleh pihak rumah sakit,” tambahnya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved