Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sangihe Sulawesi Utara

Gagal Ginjal dan Stroke Jadi Penyumbang Angka Kematian Tertinggi di Sangihe

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Handry Pasandaran, menegaskan bahwa angka kematian pasien rawat inap

Tayang:
IST
ANGKA KEMATIAN - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe Handry Pasandaran. Ia menyebutkan penyakit gagal ginjal dan stroke jadi penyumbang angka kematian tertinggi di Sangihe. 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe Handry Pasandaran, menegaskan bahwa angka kematian pasien rawat inap di wilayahnya masih cukup tinggi.

Dari data 10 besar penyakit rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Sangihe, penyakit gagal ginjal kronis (CKD) dan stroke menjadi penyumbang terbesar kasus kematian.

Berdasarkan catatan rumah sakit, total pasien rawat inap mencapai 3.417 orang, terdiri dari 1.580 laki-laki dan 1.837 perempuan.

Dari jumlah itu, 166 pasien dinyatakan meninggal dunia dengan Case Fatality Rate (CFR) keseluruhan sebesar 4,86 persen.

“Penyakit gagal ginjal kronis dan stroke adalah dua penyakit dengan tingkat kematian paling tinggi di Sangihe. Ini tentu harus menjadi perhatian bersama,” kata Pasandaran, Jumat (19/9/2025).

Untuk penyakit gagal ginjal kronis, tercatat 250 pasien dengan 53 kematian sehingga CFR mencapai 21,20 persen.

Sementara stroke mencatatkan 210 pasien dengan 46 kematian dan CFR mencapai 21,90 persen. 

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit lain seperti pneumonia, TB paru, maupun hipertensi.

Pasandaran menjelaskan, gagal ginjal dipicu oleh banyak faktor, mulai dari pola makan dan minum yang tidak sehat, konsumsi obat pereda nyeri secara berlebihan, hingga gangguan metabolisme protein.

Selain itu, penyakit diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol juga mempercepat kerusakan ginjal.

“Banyak pasien baru datang berobat saat ginjal mereka sudah memasuki stadium lanjut, biasanya stadium 4 atau 5. Pada kondisi ini, ujung-ujungnya mereka harus menjalani hemodialisis atau cuci darah,” jelasnya.

Meski fasilitas hemodialisis sudah tersedia di rumah sakit daerah dengan izin resmi, Pasandaran menegaskan bahwa pencegahan jauh lebih penting.

Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan pola hidup bersih dan sehat dengan asupan gizi seimbang, olahraga cukup, serta menghindari konsumsi makanan berlebihan yang berisiko merusak ginjal.

Ia juga mendorong masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan minimal sekali dalam setahun.

“Kalau kita rajin cek kesehatan, hipertensi atau diabetes bisa terdeteksi sejak dini. Dengan begitu, kita bisa mengontrolnya agar tidak berlanjut menjadi gagal ginjal,” ujarnya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved