Jumat, 24 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ramadan 2026

3 Persiapan Sambut Lailatul Qadar Menurut Ustadz Adi Hidayat

Dalam hadis, Muhammad menyampaikan bahwa malam Lailatul Qadar diperkirakan terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Editor: Indry Panigoro
Tribunnewswiki.com
PENDAKWAH - Ustaz Adi Hidayat (UAH). Berikut 3 persiapan sambut Lailatul Qadar menurut Ustadz Adi Hidayat. 
Ringkasan Berita:
  • Umat Islam telah memasuki pertengahan Ramadan 1447 H dan akan segera menghadapi 10 malam terakhir, yang diyakini terdapat malam istimewa yaitu Lailatul Qadar.
  • Menurut ajaran Islam, malam tersebut diperkirakan terjadi pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
  • Adi Hidayat menjelaskan tanda utama seseorang mendapatkan Lailatul Qadar adalah perubahan diri menjadi lebih tenang dan semakin rajin beribadah setelah malam tersebut.

TRIBUNMANADO.CO.ID - Umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia khususnya Sulawesi Utara kini telah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah lebih dari separuh bulan.

Pada Sabtu (7/3/2026), umat Muslim yang mulai berpuasa sejak Kamis (19/2/2026) berdasarkan keputusan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia memasuki hari ke-17 Ramadan.

Dalam waktu dekat, umat Islam akan memasuki fase yang sangat dinantikan, yakni sepuluh malam terakhir Ramadan.

Pada periode tersebut diyakini terdapat satu malam yang sangat mulia yang disebut Lailatul Qadar.

Malam istimewa ini disebut dalam ajaran Islam memiliki keutamaan yang nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan.

Dalam hadis, Muhammad menyampaikan bahwa malam Lailatul Qadar diperkirakan terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Beberapa malam yang sering disebut memiliki peluang besar adalah malam ganjil, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.

Ada pula sejumlah tanda yang sering dikaitkan dengan datangnya malam Lailatul Qadar.

Di antaranya suasana malam yang terasa tenang dan cerah, suhu udara yang sejuk dan tidak ekstrem, serta bulan yang terlihat setengah.

Selain itu, matahari yang terbit pada pagi harinya disebut tidak memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Pendakwah Adi Hidayat menjelaskan bahwa tanda paling penting seseorang meraih malam tersebut sebenarnya bukan hanya dari fenomena alam.

Menurutnya, perubahan positif dalam diri seseorang setelah malam itu berlalu justru menjadi indikator utama.

Ia menyebut, jika seseorang setelah malam tersebut merasakan ketenangan, kedamaian, dan terdorong untuk meningkatkan ibadah serta memperbaiki diri, maka hal itu bisa menjadi tanda bahwa ia mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar.

"Jika setelah malam itu tiba-tiba berubah jadi tenang, jadi damai, jadi baik, dan esoknya gemar meningkatkan ibadah, nambah-nambah terus berubah lebih baik, itu tanda yang paling utama Anda mendapatkan malam Al-Qur'an," papar Ustadz Adi Hidayat pada tayangan video di kanal YouTube @nafassubuhtv.

Lakukan Persiapan Khusus

Demi mendapatkan malam keistimewaan itu, umat Nabi Muhammad  dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada 10 malam terakhir Ramadan

Amalan yang dapat dilakukan antara lain salat malam, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan berdoa. 

Dengan memperbanyak ibadah, peluang untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar menjadi lebih besar.

Selain itu, penting untuk menjaga niat yang tulus dalam beribadah. Niat yang ikhlas akan membawa seseorang lebih dekat kepada Allah dan membuka pintu-pintu rahmat-Nya.

Secara khusus, Ustadz Adi Hidayat membeberkan persiapan yang dilakukan Rasulullah SAW.

“Pertama persiapan fisik dan mental yang prima. Dalam satu riwayat disampaikan, Rasulullah SAW tampil rapi dan wangi tiap ke masjid pada malam-malam tersebut,” ujar Ustadz Adi Hidayat, dikutip dari video audio dakwah.

Kedua, Nabi lakukan i’tikaf di masjid terbaik dan posisi strategis. Hal itu demi kekhusyukan beribadah.

Ustadz Adi Hidayat lantas menggambar posisi favorit Rasulullah SAW dan sahabat saat salat dan i’tikaf di Masjid Nabawi di Kota Madinah.

“Jadi cari titik yang bisa buat kita fokus ibadah. Jangan tempat yang enak buat tidur,” ucap Ustadz Adi Hidayat.

Ketiga, yang paling penting, menyiapkan agenda i’tikaf. Rencana amalan.

 “Siapkan dulu menu amalannya apa saja selama 10 hari itu. Apa yang bisa dimaksimalkan,” kata Ustadz Adi Hidayat.

Karena kalau masuk masjid tanpa persiapan, nanti cenderung jadi penyimak saja. Juga cenderung mengikuti orang saja.

“Lihat orang salat, salat. Orang baca Qur’an, baca Qur’an. Jadi, amalan tidak fokus dan tidak ada target spesifik yang akan dicapai,” tutur Ustadz Adi Hidayat.

Dia mencontohkan, ada yang ingin mendapatkan ampunan dari Allah SWT. 

Ada yang ingin mendalami Al-Qur’an, misal hafalan, tafsir dan khatam dalam waktu tertentu.

“Misal dalam 10 hari khatam 30 juz,” ucap  Ustadz Adi Hidayat.

(Banjarmasinpost.co.id)

Sumber: Banjarmasin Post

Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id 

Baca Berita Lainnya di: Google News

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado, Trheads Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved