Senin, 13 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Mutiara Ramadan

Hari Kedelapan Ramadan 1447 H : Menghindari Skandal Spiritual

Mutiara ramadan oleh Menteri Agama RI, Prof DR Nasaruddin Umar MA. Menghindari Skandal Spiritual.

Tribun Manado
MUTIARA RAMADAN - Menghindari Skandal Spiritual. Oleh Menteri Agama RI Prof DR Nasaruddin Umar MA. 

Ringkasan Berita:
  • Skandal spiritual menyebabkan jatuhnya sejumlah makhluk dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.
  • Malaikat jatuh karena mereka membangkan (aba) dan takbut (istikbar).
  • Malaikat turun ke Baitul Ma’mur dari ‘Arasy karena mempertanyakan kebijakan Tuhan (over kritis) dan menepuk dada sebagai ahli ibadah (al-‘alin), dan manusia jatuh kebumi karena tidak kuat menahan nafsu.

Oleh:
Prof DR Nasaruddin Umar MA
Menteri Agama RI

DALAM lintasan sejarah dunia Islam, skandal spiritual menyebabkan jatuhnya sejumlah makhluk dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan. Malaikat jatuh karena mereka membangkan (aba) dan takbut (istikbar). 

Malaikat turun ke Baitul Ma’mur dari ‘Arasy karena mempertanyakan kebijakan Tuhan (over kritis) dan menepuk dada sebagai ahli ibadah (al-‘alin), dan manusia jatuh kebumi karena tidak kuat menahan nafsu.

Dalam sebuah hadis diceritakan di dalam kitab Ihya Ulum al-Din karya Imam Al-Gazali, seorang alim dan ahli ibadah yang semata-mata mencurahkan waktu dan pikirannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT Ia banyak mengasingkan diri dari keramaian demi untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi dosa dari orang-orang awam. 

Suatu ketika seorang pelacur mencari ulama untuk curhat dan sekaligus meminta nasihat bagaimana meninggalkan dunia hitam yang selama ini degelutinya. Ia juga menanyakan apakah masih harapan Tuhan memaafkan dan menerima tobatnya setelah malang melintang hidupnya di tengah lumpur dosa. 

Mendengarkan keinginan itu, sang ahli ibadah itu menolak harapan perempuan nakal itu dengan mengatakan, aku tidak mau menodai diriku dengan berkomunikasi orang kotor seperti itu. Mendengarkan cerita itu maka Nabi mengatakan sang ahli ibadah itu penghuni neraka dan perempuan yang karena ketulusannya ingin bertaubat adalah penghuni syurga. Subhanallah.

Riwayat ini mengingatkan kita, kriteria kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah mahdhah yang dilakukan  tetapi ibadah sosial, seperti memperhatikan nasib fakir miskin dan anak yatim piatu. 

Bahkan, celakalah bagi orang salat yang tidak membawa dampak sosial kemasyarakatan. Aktivitas ibadah dan spiritual yang dilakukan tanpa memperdulikan lingkungan masyarakat di mana ia berada malah dikhawatirkan terjebak dengan apa yang disebut dengan ego spiritual atau kesombongan spiritual. 

Ego spiritual ialah orang-orang yang terlalu mengedepankan hubungan vertikalnya dengan Tuhan tanpa mau tahu lingkungan masyarakat sekitarnya. Bahkan ia cenderung menghindarinya karena seolah-olah dirinya sudah tidak selevel dengan mereka. 

Ia mengklaim dirinya sebagai orang-orang kelas atas dalam dunia spiritual. Ia memilih-milih sahabat dan menghindari orang-orang yang justru memelukan perhatian dan kasih sayang serta bimbingan.

Jika orang-orang ini dijauhi lantas mereka semakin jauh dengan Tuhan, sementara kita dengan asyiknya beribadah sendirian tanpa kehadiran mereka yang boleh jadi menyita waktu, tenaga, pikiran, dan materi, maka kita termasuk kategori ego spiritual (inniyyah). 

Keangkuhan dan kesombongan spiritual tak ada ubahnya dengan kesombongan duniawi yang lebih menekankan kebanggaan individu. 

Orang-orang seperti inilah yang disebut di dalam Alquran tidak memiliki bekas-bekas sujud (atsar al-sujud). Bekas sujud dalam Alquran bukan dengan sengaja menghitamkan dahi di atas kening seperti dilakukan segelintir orang yang memahami secara tekstual ayat tadi. 

Atsar sujud ialah komitmen sosial yang tang tinggi dimiliki seseorang sebagai bagian dari penghayatan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya. Termasuk dalam kesombongan spiritual ialah menikmati pujian orang-orang yang mengaguminya lantaran banyaknya ibadah yang dilakukan. 

Mungkin ia melaksanakan puasa Senin-Kamis, salat-salat rawatib tidak ada yang ditinggalkan, dan zikirnya jalan terus, lalu dengan enteng memandang  enteng orang lain yang tidak seperti dengannya. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved