Sabtu, 6 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Viral

Presiden Prabowo Akui Terpukul Terima Data Jumlah Rakyat Miskin Naik: Seharusnya Kita Tambah Kaya

Menurut Prabowo, rasio penerimaan negara Indonesia menjadi salah satu yang terendah dibanding negara-negara G20 maupun sejumlah negara ASEAN.

Tayang:
Editor: Indry Panigoro
Tribun Manado/Handout/Gerindra
PRESIDEN - Potret Presiden Prabowo Subianto saat mengunjungi Pulau Miangas, pulau terluar paling utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina, Sabtu (9/4/2026).  Presiden Prabowo Subianto menilai kondisi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir belum berjalan sebagaimana mestinya. 

Ringkasan Berita:
  • Presiden Prabowo menyoroti rendahnya rasio penerimaan negara Indonesia terhadap PDB yang dinilai tertinggal dibanding negara G20 dan ASEAN.
  • Meski ekonomi tumbuh rata-rata 5 persen selama tujuh tahun terakhir, Prabowo mengaku terpukul karena data yang diterimanya menunjukkan angka kemiskinan naik dan kelas menengah menurun.
  • Pernyataan tersebut berbeda dengan data BPS yang mencatat jumlah penduduk miskin justru mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

TRIBUNMANADO.CO.ID - Presiden Prabowo Subianto menilai kondisi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir belum berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPR RI terkait Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) APBN 2027, Rabu (20/5/2026), Prabowo menyinggung rendahnya rasio penerimaan negara Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Prabowo, rasio penerimaan negara Indonesia menjadi salah satu yang terendah dibanding negara-negara G20 maupun sejumlah negara ASEAN.

Ia membandingkan pendapatan negara Indonesia yang hanya berada di kisaran 11-12 persen dari PDB dengan negara lain seperti Meksiko 25 persen, India 20 persen, Filipina 21 persen, hingga Kamboja 15 persen.

Padahal, kata Prabowo, Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar dan seharusnya mampu menghasilkan pendapatan negara lebih tinggi.

Ia mempertanyakan mengapa Indonesia masih tertinggal dibanding Malaysia maupun Filipina dalam pengelolaan ekonomi.

Prabowo juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di angka 5 persen selama tujuh tahun terakhir.

Menurutnya, jika pertumbuhan tersebut diakumulasi, seharusnya kondisi ekonomi nasional meningkat hingga sekitar 35 persen dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Namun data yang diterimanya justru menunjukkan jumlah masyarakat miskin mengalami kenaikan sekitar 3 persen, sementara jumlah kelas menengah turun dari 22 persen menjadi 17 persen.

Prabowo mengaku sangat terpukul setelah menerima data tersebut beberapa minggu usai dilantik menjadi Presiden.

Ia menilai ada yang tidak berjalan benar dalam sistem ekonomi Indonesia karena pertumbuhan ekonomi tidak sejalan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.

"Sekarang pun kita masih di bawah Malaysia, apa yang sebabkan kita tidak mampu, bedanya apa kita sama orang Malaysia, orang Kamboja, bedanya apa kita sama orang Filipina," sambung Prabowo.

Ketua Umum Partai Gerindra itu juga membeberkan kalau pertumbuhan ekonomi RI sejatinya selalu tumbuh di angka 5 persen setiap tahunnya.

 Dia menyebut, pertumbuhan ekonomi 5 persen itu selalu konsisten terjadi di 7 tahun belakangan ini, yang dimana jika dirata-rata harusnya ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 35 persen.

"Saudara-saudara sekalian, pertumbuhan kita dalam 7 tahun terakhir memang baik, 5 persen setiap tahun, selama 7 tahun, kali 5 persen pertumbuhan kita 35 persen, seharusnya kita tambah kaya 35 persen," beber Prabowo.

Sumber: TribunMedan.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved